Selasa, 27 Maret 2012

Two Men Behind Ketok Mejik

Hheee... Stop menebak-nebaknya. Ini bukan tentang tukang benerin mobil di ketok mejik pinggir jalan, lho... Bukan pula tentang horornya mejik si Dedi Kokbusyet. Apalagi tentang konyolnya mejik si Buaya Kuya. Yap, ini tentang two men behid ketok mejik di panggung Jakarta 1.

Tok tok tok, yang satu harus mundur!
Tok tok tok, yang satu kudu maju!

Hhaaa... Ketebak deh pasti, siapa sih two men behind ketok mejik? You know them so weeell... (:

Telat sih temanya... Tapi selama janur kuning belum berdiri, eh, daripada pusying pusying bicarain rencana kenaikan BBM yang bikin keki (padahal belom dapet ide buat nulis), mending kita bicara tentang keteladanan yang kian hari kian langka ditampilkan di layar tivi. Hanya chibi, chibi, dan chibi yang tiap hari meracuni. Sebelll!

Beneran unik. Menggelitik. Dan pastiii... Mejik! Ketika seseorang sudah disiapkan sebagai calon pemimpin. Di tiap gang Jakarta sudah bertebaran tampangnya. Di dunia maya pun sudah dibuat akun jejaring sosial yang mengelu-elukan dirinya. Yah, 80% hampir jadi pemimpin... Engingeng... Tok tok tok, gak jadi Jakarta 1!

Kasian? Nggak juga. Soalnya reaksi itu orang beneran mejik! Legowo sangat deh pokoknya. Nggak balik menyerang, sakit hati, apalagi ngamuk-ngamuk. Eh, keliatannya, lho... Hati orang siapa yang tewu, kan? (:

Eh ada lagi orang serupa. Ketika selama berbulan-bulan nggak ada yang memprediksikan majunya nih orang di ajang Jakarta 1, engingeng... Tok tok tok, maju jadi Jakarta 1!

Sukurin? Jangan, liatin aja... Soalnya reaksi orang ini juga beneran mejik! Nurani-nya menyatakan Haqqul SIAP maju sebagai Jakarta 1, katanya.

Untung, track recordnya cukup bagus kemarin-kemarin. Sampai sosoknya nggak kalah mengguncang jejaring sosial dibanding pendulunya. Fyi: akun jejaring sosial gue pun ikutan 'rame' sama foto nih orang -,-.

Yayaya... Walaupun gue sadar sesadar sadarnya nggak punya hak buat ikutan milih Jakarta 1, tapi sebagai tetangga, gue menerawang ada keteladanan dari dua orang ini yang mejik!

Sekali lagi, bener-bener mejiikkk! Siapa sih bekingannya? (:

#bukan_kampanye

Kamis, 15 Maret 2012

Ditampar Itu Sakit, Jendral!

Hai hai hai, MPman MPwati...
Lama nggak 'ketemu' di MPland, mumpung lagi di hari Jumat, gue ingin menyapa kalian dengan sapaan ukhrowi:

Apa kabar iman?
Sudah baca surat al-Kahfi, kah?
Yang belum... Ayo baca, mumpung maghrib masih beberapa jam lagi. ^__^

Mong-ngomong... Kalian pernah nggak ngerasain ditampar oleh orang yang lebih muda usianya dari kita? Bukan ditampar dalam arti yang sebenarnya, lho... Tapi ditampar dalam artian mendapat pelajaran dari tingkah mereka. Pernah, pernah, pernah?

Pasti pernah deh gue yakin seyakin yakinnya. Alhamdulillah, di Jumat pagi ini, gue pun ditampar oleh 2 anak SMP di atas kereta. Sakit! Malluuu! ):

Melihat polah mereka yang ketakutan karena nggak beli karcis, memori gue melayang ke awal-awal masa kuliah dulu. Tepatnya waktu lagi sengamaaat banget jadi pengajar di salah satu rumah singgah di bilangan stasiun Depok Baru.

Dua anak SMP ini ketakutannya setengah mati. Sampai mereka hampir memutuskan buat turun di tengah perjalanan ketika kereta lagi melaju lumayan kencang. Untung ada seorang bapak yang menarik-narik tangan mereka untuk mencegah aksi nekat itu.

'Bahaya, kereta belom berhenti!' kata si Bapak.
'Lepasin! Ntar kita ditangkep, Pak!' balas salah satu dari mereka.
'JANGAN! Tunggu kereta berhenti, baru turun!'
...

Beda sama gue dulu. Kalau mereka ketakutan banget naik kereta tanpa karcis, gue sama teman-teman malah cekikikan waktu lari-lari ke gerbong paling belakang demi mnghindari petugas. Bahkan gue mikirnya itu adalah uji nyali yqng lumayan seru! Huh, payah, yeesss!

Yah, bukannya kami pelit, lho... Masalahnya, untuk mencapai rumah singgah tersebut, cuma ngelewatin satu stasiun (Pondok China-Depok Baru). Kan deket banget. Sayang aja gituh, 1500 rupiah begitu berarti buat anak kost macam kami. Hhiii.

Alhamdulillahnya, ketidakjujuran kami cuma berlangsung beberapa kali aja, kok. Selanjutnya kami sadar, niat baik (ngajar di rumah singgah) kudu ditempuh dengan cara yang baik pula. Kalau di-matematika-kan, naik kereta nggak beli karcis sama dengan -1, ngajar di rumah singgah sama dengan +1, berarti 0 besar donk yang kami lakukan kemarin-kemarin. Eh minus tenaga juga dink -,-

Nah, the big problem yang membuat gue merasa tertampar bolak-balik kiri-kanan adalah... Kok bisa ya, gue yang udah kuliah (di negeri dengan jalan yang mulus pula) telat kesadaran untuk jujur. Sementara mereka yang masih SMP, takut banget dengan ketidakjujuran. Padahal juga, karcis KRL jaman sekarang lebih mahal walaupun cuma beda 500rupiah ^__^v.

Hheee... Tapi sekarang insyaAllah udah nggak, kok. Selalu bayar kalau naik kereta. (:

Wokeh, sekian dulu pelajaran ttg kejujuran pagi ini. Hikmah itu emang nggak selalu berasal dari orang tua atau buku yang tebalnya naujubileee. Hikmah itu terseak buat orang beriman, rait?

Sebagai penutup... Izinkan gue menyapa kalian dengan sapaan duniawi penuh kesolidaritasan:

'Yang single mana suaranyaaaaaaaaa?'
'La tahzan wa la takhof, bergembiralah lah lah lah...!'

*ending yang merusak XD

jangan ngiri nih yeesss.... tadi gue ngobrol sm Ustadzah Wirianingsih empat mata (bkn wawancara) n dikasih wejangan ttg keluarga Qur'an. Sekali lagi, tollooong banget jangan iri ^__^