Tampilkan postingan dengan label perubahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perubahan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Desember 2011

Belajar Dari Kotaro Minami

Alahaaay, lagi-lagi ini buat generasi 80an yang tumbuh di era 90an... Masih ingat dengan tokoh Kotaro Minami? Ingat, ingat, ingat? Kalau nggak ingat, mari kita bernostalgila bersama ;-).

Di era 90an, seinget gue lumayan banyak pahlawan anak-anak dalam film. Ada Go go Power Rangers, ada juga Jiban Jiban pembela kebenaran, ada juga kini kudatang Saraz pahlawan kebajikan, ada juga ingin kukatakan irama hatiku kabulkan Wedding Peach, ada juga Sailor Moon.

Tapi yang paling gue inget ya si Kotaro Minami ini, yang tiap beraksi menjadi Ksatria Baja Hitam. Bahkan saking ngefans-nya, dulu gue pernah punya dua baju lebaran yang ada sablonan gambar doi bareng si Belalang Tempur, kendaraan setianya.

*Buat generasi 2000, maap maap nih kalau rooming :-P*

Satu kata sakti Kotaro Minami yang paling gue inget sampai sekarang:

Berubaaaah...!

Dan satu kata ini kini tengiang lagi dalam benak gue. Teparnya kemarin ketika ada dua kejadian tentang perubahan di sekeliling gue.

Kejadian pertama saat gue merasakan sendiri gimana proses uji coba hari pertama jalur kereta Jabodetabek. Intinya sih jadi hampir mirip sama Busway: transit-transitan tanpa harus beli tiket (selama masih di jalur dalam).

Mendadak semua orang ingin bersuara. Mulai dari cuma ngedumel sampai marah-marahin petugas KAI. Beloman lagi mendadak terjadi penumpukan penumpang di stasiun Tana Abang. Beloman lagi jadwal kereta yang ngaret banget n kelamaan berhenti di beberapa stasiun. Riweh sangad, euy!

Actually gue juga sempat ikutan "bicara" sih... Secara perjalanan gue jadi nambah setengah jam dari biasanya, gitu loch! Tapi "bicara" gue nggak separah yang lain, kok... Cuma ngedumel dalam hati n dibawa-bawa sampai ke dunia maya :-P. Tapi eh api, pas ada kesempatan ngobrol ringan sama dua petugasnya di stasiun Mangarai... Eyalah, ternyata kebijakan perubahan rute ini nggak selamanya nggak bagus, kok! Bahkan lumayan menguntungkan bagi gue. Selain jadi lebih murah sedikit, nggak perlu lagi tuh lari-lari ke lantai dua stasiun Tana Abang demi beli karcis lagi ke Manggarai. Hheee...

Tapi gue heran, sampai pagi ini kok masih ada aja penumpang yang ngedumelin sistem baru ini. Kalau gue sih, namanya juga masih uji coba. Wajar aja kalau masih banyak "nggak beres"nya.

Jadi, pelajaran apa yang kita dapat dari pengalaman pertama gue? Yep, berubaaaah!

Yang kedua juga terjadinya kemarin. Ketika gue ke kantor dengan model jilbab yang lagi tren sekarang sekarang. Itu loch, yang daleman arab-nya keliatan sampe jidad, jarum pentulnya ditarik sampai ke samping pipi (biasanya kan di bawah dagu). Ada yang bilang, "kalau gue sih jadi diri sendiri aja. Pake jilbab sebagaimana mestinya para akhwat". Ada juga yang bilang, "duilleee... Sekarang jadi anak Hijabers, nih ye, Nj...."

Terus gue mikir... Lah, emangnya kalau make jilbab kayak gini tuh nggak jadi diri sendiri, apa ya? Bukan akhwat, gituh? Then, kenapa juga kalau ngikutin gayanya anak Hijabers? Dosa apa, yeesss?

Bukannya yang penting masih menjulur sampai menutup yang harus ditutup, longgar hingga nggak membentuk lekuk tubuh, masih pake jilbab dalaman walaupun luarnya pake jilbab "saringan tahu", dan nggak mencolok, yeesss?

Kalau menurut gue sih... Noted: MENURUT GUE. Nggak masalah deh make jilbab sambil ngikutin mode yang sesuai dengan jaman kita tinggal di dalamnya. Yang penting bener niat dan sesuai syariat, right? Pake jilbab ya karena emang nurut perintah Allah, bukan karena lagi in atau ikut ikut orang sekitar. So, kalau niatnya benar, insyAllah ngikut syariat deh!

Lagian, kalau seandainya model jilbab kita sesuai dengan jamannya, mudah-mudahan bisa memperkecil jarak antara mereka yang disebut sebgai Jilbabers (jilbab gondrong) dan mereka yang menamakan diri sebagai Hijabers (jilbaban tapi tetap modis). Iya nggak sih? Hheee, cuma pendapat gue aja sih...

Jadi, pelajaran apa yang bisa kita ambil dari cerita kedua ini? Yep, lagi-lagi tentang Berubaaaah!

Emang berat yeesss buat melakukan satu perubahan (ke arah yang lebih baik). Secara perubahan identik dengan mendobrak rutinitas dan kebiasaan. Apalagi mengubah satu hal yang udah mendarah daging. Beuuuwh, butuh usaha ekstra! Gue juga masih sering berat menerima atau melakukan satu perubahan. Terutama waktu pertama kali banget memutuskan untuk berubah. Ibarat dijodohin sama orang yang nggak kita kenal asal usulnya. Hheee, emang pernah ngerasain? Yah, gitu deh intinya.

Eniwey, dari tadi gue ngemeng aja dah. Terus, apa nyambungnya sama Kotaro Minami?

Ya jelas aja ada, Mameeen! Nih ya, Kotaro Minami itu kan selalu siap siaga berubah menjadi Ksatria Baja Hitam kala doi dibutuhkan. Kala penduuk bumi diusik oleh mahluk jahat. Ya kan, kan?

Nah, harusnya kita bisa mencontoh kesiapan doi untuk beubah kapanpun dan di manapun. Eit, bukan berubah jadi Ksatria Baja Hitam dan semacamnya, yeesss... Tapi berubah ke arah yang lebih baik! *ini ngingetin diri sendiri sebenarnya.

Emang agak aneh sih analoginya. Ya, paling enggak kita bernostalgila lagi lah ke masa kanak kanak di era 90an, yang kualitas film maupun lagunya lumayan mendidik ketimbang era 2000an. Mana film anak-anaknya banyak yang kurang menddik, lagu anak-anaknya pun udah langka. Hidup era 90an! :-D

*foto: Google