Senin, 31 Oktober 2011
Akhirnya rakyat Indonesia boleh bernafas lega karena Unesco akan menetapkan Belalang dan Kupu-Kupu Indonesia sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia. Hal ini disebabkan setelah UNESCO dikirimi lagu "Pok Ame Ame" dan ternyata Unesco baru tahu bahwa Belalang dan Kupu-Kupu Indonesia sangat ajaib karena siang makan nasi, kalau malam minum susu.... Ckikik! [Ust. Satiri Hasan]
Apa Bahasa Inggris-nya "Buku Jatoh"?
Gue tantang MPman MPwati yang ngaku gape bahasa Inggris buat jawab pertanyaan di atas. Oiya, fyi... Jawabannya cuma terdiri dari satu kata, nggak boleh dan nggak bisa lebih. Ada yang tauuuu?
Susah, yeesss? Emang! Karena mungkin cuma gue, kakak gue, dan Allah SWT aja yang tau. Hheee..
Wokeh, actually gue mau sedikit cerita betapa menyenangkannya belajar bahasa dengan metode yang nggak lazim, bersumber dari dua kakak gue yang walaupun nggak bisa melahap bangku perguruan tinggi (merekalah orang paling maruk sedunia: bangku aja dilahap! Hheee, garink!), tapi cara mereka mengajar nggak bisa gue lupain sampe sekarang. Dan uniknya lagi, mereka berdua jebolan STM Boedoet. Salah satu STM paling rusuh se-Jakarta. Hebat, kan?! Nggak cuma jago tawuran aja ternyata, tapi juga jago ngajar!
Cerita pertama kalau nggak salah terjadi waktu gue duduk di bangku kelas dua, deh. Malam itu, kakak gue ngajarin gue beberapa kosakata bahasa Inggris.
"This is a pen," katanya sambil ngangkat pulpen di tangannya.
Gue pun me-repeat perkataannya barusan, "This is a pen."
Beberapa kata yang berada di sekeliling kita disebutin satu persatu sama doi.
"This is a pencil."
"This is an eraser."
"This is a ruller"
"This is....."
Nah, diantara sekian banyak yang doi ajarin, ada satu kosakata yang paling gue inget sampe sekarang. Bahkan waktu gue ceritain ulang ke teman-teman kantor, mereka terbahak-bahak mendengar kengacoan kakak gue.
"This is a book," kali ini dia menunjuk buku yang ada d tangan kirinya.
Gue pun merepeat perkataannya barusan. Then, dia langsung menjatuhkan buku itu ke ubin, sambil bertanya...
"This is. ....?" Gue mendadak bego.
"This is.... Apa ya?" Gue malah balik bertanya.
"This is... Masa nggak tau sih? This is....?" doi mengulang pertanyaan lagi sambil menjatuhkan buku lagi ke ubin.
"This is... Nggak tau!" Gue mulai kesal. Pikir gue, doi kan beloman pernah ngasih tau apa bahasa Inggrisnya buku jatoh!
"This is... Gedebuk! Hhee...," dengan penuh kemenangan doi menjatohkan lagi itu buku untuk ketiga kalinya.
Beneran dulu gue nggak ngerti sama sekali apa bener apa salah itu yang diajarin doi. Sampai doi mengulang sekali lagi demi memperkuat keyakinan gue kala itu.
"This is a book. And this is (sambil ngelepas itu buku dari tangannya).. Gedebuk. Coba bilang,"
"This is a book, and this is (sambil melakukan hal yang sama dengan doi: buang buku) gedebuk."
"Good."
Masih kebayang lho sampe sekarang, gimana cengengesannya doi sepanjang pelajaran ngaco waktu itu.
Dan gue pun melakukan hal yang sama kalau lagi nginget-nginget masa dulu: senyum mesem-mesem meratapi kebodohan gue waktu kecil. Bedanya, gue nggak menurunkan kengacoan tersebut kepada keponakan-keponakan yang segambreng. Gue masih waras, gituuuh! Nggak kebayang gimana mereka bakal ngecengin kalau gue ngajarin mereka dan diingatnya itu pelajaran ngaco.
"Ngakunya anak SMA 6... Ngakunya anak UI... Bahasa inggris nggak becus!" Mungkin kayak begitu cengan mereka. Biasa, pada iri gue sekolah n kuliah di tempat ternama di Jekardah. *minta digeplak sama 20 keponakan!
Cerita ke-dua bukan gue sih yang ngalamin. Tapi keponakan yang baru aja masuk kelas dua, pindahan dari Surabaya ke Tangerang. Namanya baru banget tinggal di Jakarta, tuh anak bener-bener polos! Jadi beberapa bulan yang lalu, dengan bangganya doi bilang ke gue dan Mamahnya.
"Mah, Cinu'... Ceria udah jago bahasa Inggris!"
"Masa?" Gue nggak percaya banget. Kakak gue apalagi. Terbengong-bengong dibuatnya. Masa iya, baru beberapa bulan sekolah di sekolah baru udah dengan pedenya bilang jago bahasa Inggris? Impossible-impossible gimanaaa gituh!
"Coba Mamah tes...," Kakak gue mencoba menepis ketidakpercayaannya pada anak bontotnya itu.
"Apa bahasa inggrisnya roti...?"
"Gampang...! Roti itu ITOR!" sambil teriak doi ngejawab.
"Heh?" Gue masih nggak ngerti, actually, bahasa Inggris dari kota manakah Itor? Apa iya bahasa Inggrisnya orang Zimbabwe?
"Kalau bahasa Inggrisnya makan, apa?"gantian gue yang nanya.
"Ah, gampang banget... Makan itu... Nakam!"
Ngeeek?!
"Kalau bahasa Inggrisnya pulang: Ngalup. Bahasa Inggrisnya pergi: Igrep. Bahasa Inggrisnya minum: Munim. Bahasa inggrisnya....." doi meeruskan meracaunya sendiri tanpa diminta.
Owalah, ternyata bahasa Inggris yang dimaksud doi itu bahasa balik yang biasa gue dan kakak-kakak pake kalau lagi ngumpul-ngumpul! Ckikikik XD.
"Udah-udah, ngaco aja siang-siang. Siapa yang ngajarin?" kakak gue sewot gitu denger kengacoan anaknya.
"Om Iyaaaan. Hheee,"
Eyalah, emang nggak ada yang waras dah. Baik kakak gue yang ke-enam maupun ke-tujuh, yang dua-duanya jebolan Boedoet. Ckckck...
Eh tapi biarpun ngaco, cara ngajar mereka berdua, unik yeesss... Bener-bener fun, kalau dipikir-pikir. Hhee. Beda banget sama metode pengajaran yang sering gue denger dari balik tembok SD di Utan Kayu tiap berangkat ngantor.
Selain masih sering terdengar bentakan dan omelan, cara ngajarnya juga masih pake cara konvensional aka jadul. Masih ada pendiktean!
PR nih buat guru-guru SD yang masih muda-i. Terapin deh metode ngajar yang fun n nggak bikin ngantuk. Misalnya cara yang dipakai kakak gue, giituh. Noted: bukan ngaconya yeesss, tapi uniknya! Okokok? :-)
Susah, yeesss? Emang! Karena mungkin cuma gue, kakak gue, dan Allah SWT aja yang tau. Hheee..
Wokeh, actually gue mau sedikit cerita betapa menyenangkannya belajar bahasa dengan metode yang nggak lazim, bersumber dari dua kakak gue yang walaupun nggak bisa melahap bangku perguruan tinggi (merekalah orang paling maruk sedunia: bangku aja dilahap! Hheee, garink!), tapi cara mereka mengajar nggak bisa gue lupain sampe sekarang. Dan uniknya lagi, mereka berdua jebolan STM Boedoet. Salah satu STM paling rusuh se-Jakarta. Hebat, kan?! Nggak cuma jago tawuran aja ternyata, tapi juga jago ngajar!
Cerita pertama kalau nggak salah terjadi waktu gue duduk di bangku kelas dua, deh. Malam itu, kakak gue ngajarin gue beberapa kosakata bahasa Inggris.
"This is a pen," katanya sambil ngangkat pulpen di tangannya.
Gue pun me-repeat perkataannya barusan, "This is a pen."
Beberapa kata yang berada di sekeliling kita disebutin satu persatu sama doi.
"This is a pencil."
"This is an eraser."
"This is a ruller"
"This is....."
Nah, diantara sekian banyak yang doi ajarin, ada satu kosakata yang paling gue inget sampe sekarang. Bahkan waktu gue ceritain ulang ke teman-teman kantor, mereka terbahak-bahak mendengar kengacoan kakak gue.
"This is a book," kali ini dia menunjuk buku yang ada d tangan kirinya.
Gue pun merepeat perkataannya barusan. Then, dia langsung menjatuhkan buku itu ke ubin, sambil bertanya...
"This is. ....?" Gue mendadak bego.
"This is.... Apa ya?" Gue malah balik bertanya.
"This is... Masa nggak tau sih? This is....?" doi mengulang pertanyaan lagi sambil menjatuhkan buku lagi ke ubin.
"This is... Nggak tau!" Gue mulai kesal. Pikir gue, doi kan beloman pernah ngasih tau apa bahasa Inggrisnya buku jatoh!
"This is... Gedebuk! Hhee...," dengan penuh kemenangan doi menjatohkan lagi itu buku untuk ketiga kalinya.
Beneran dulu gue nggak ngerti sama sekali apa bener apa salah itu yang diajarin doi. Sampai doi mengulang sekali lagi demi memperkuat keyakinan gue kala itu.
"This is a book. And this is (sambil ngelepas itu buku dari tangannya).. Gedebuk. Coba bilang,"
"This is a book, and this is (sambil melakukan hal yang sama dengan doi: buang buku) gedebuk."
"Good."
Masih kebayang lho sampe sekarang, gimana cengengesannya doi sepanjang pelajaran ngaco waktu itu.
Dan gue pun melakukan hal yang sama kalau lagi nginget-nginget masa dulu: senyum mesem-mesem meratapi kebodohan gue waktu kecil. Bedanya, gue nggak menurunkan kengacoan tersebut kepada keponakan-keponakan yang segambreng. Gue masih waras, gituuuh! Nggak kebayang gimana mereka bakal ngecengin kalau gue ngajarin mereka dan diingatnya itu pelajaran ngaco.
"Ngakunya anak SMA 6... Ngakunya anak UI... Bahasa inggris nggak becus!" Mungkin kayak begitu cengan mereka. Biasa, pada iri gue sekolah n kuliah di tempat ternama di Jekardah. *minta digeplak sama 20 keponakan!
Cerita ke-dua bukan gue sih yang ngalamin. Tapi keponakan yang baru aja masuk kelas dua, pindahan dari Surabaya ke Tangerang. Namanya baru banget tinggal di Jakarta, tuh anak bener-bener polos! Jadi beberapa bulan yang lalu, dengan bangganya doi bilang ke gue dan Mamahnya.
"Mah, Cinu'... Ceria udah jago bahasa Inggris!"
"Masa?" Gue nggak percaya banget. Kakak gue apalagi. Terbengong-bengong dibuatnya. Masa iya, baru beberapa bulan sekolah di sekolah baru udah dengan pedenya bilang jago bahasa Inggris? Impossible-impossible gimanaaa gituh!
"Coba Mamah tes...," Kakak gue mencoba menepis ketidakpercayaannya pada anak bontotnya itu.
"Apa bahasa inggrisnya roti...?"
"Gampang...! Roti itu ITOR!" sambil teriak doi ngejawab.
"Heh?" Gue masih nggak ngerti, actually, bahasa Inggris dari kota manakah Itor? Apa iya bahasa Inggrisnya orang Zimbabwe?
"Kalau bahasa Inggrisnya makan, apa?"gantian gue yang nanya.
"Ah, gampang banget... Makan itu... Nakam!"
Ngeeek?!
"Kalau bahasa Inggrisnya pulang: Ngalup. Bahasa Inggrisnya pergi: Igrep. Bahasa Inggrisnya minum: Munim. Bahasa inggrisnya....." doi meeruskan meracaunya sendiri tanpa diminta.
Owalah, ternyata bahasa Inggris yang dimaksud doi itu bahasa balik yang biasa gue dan kakak-kakak pake kalau lagi ngumpul-ngumpul! Ckikikik XD.
"Udah-udah, ngaco aja siang-siang. Siapa yang ngajarin?" kakak gue sewot gitu denger kengacoan anaknya.
"Om Iyaaaan. Hheee,"
Eyalah, emang nggak ada yang waras dah. Baik kakak gue yang ke-enam maupun ke-tujuh, yang dua-duanya jebolan Boedoet. Ckckck...
Eh tapi biarpun ngaco, cara ngajar mereka berdua, unik yeesss... Bener-bener fun, kalau dipikir-pikir. Hhee. Beda banget sama metode pengajaran yang sering gue denger dari balik tembok SD di Utan Kayu tiap berangkat ngantor.
Selain masih sering terdengar bentakan dan omelan, cara ngajarnya juga masih pake cara konvensional aka jadul. Masih ada pendiktean!
PR nih buat guru-guru SD yang masih muda-i. Terapin deh metode ngajar yang fun n nggak bikin ngantuk. Misalnya cara yang dipakai kakak gue, giituh. Noted: bukan ngaconya yeesss, tapi uniknya! Okokok? :-)
Minggu, 30 Oktober 2011
Jaka Sembung Naik Odong-odong
Cerita pertama:
Diundang buat ketemu sama Raditya Dika??? Wuiiih..... Appaaaaa? Wooooot? Hmmm, biasa aja! Hheee.
Secara dulu kita tetanggaan gituh SMA-nya. Doi anak 70, gue anak 6 yang tiada hari, bulan,bahkan tahun yang berlalu tanpa tawuran. Cuma angkatan kita aja yang beda jauh. Jadi walaupun tetanggaan, doi beloman pernah ketemu sama gue deh. Ckckck... Kasian banget ya si Radit! (ini yang terkenal sebenarnya gue apa Radit sih?)
Tapi asli, gue biasa aja tuh mau ketemuan dan nemenin temen buat wawancara doi di salah satu toko buku di Plaza Senayan. Lagian kan kita sama-sama manusia yang doyan makan nasi dan biasa melakukan ekskresi di kamar mandi tiap pagi. So, nggak perlu lah ya mengagumi berlebihan... Bukan begituh?
Hanya aja, berhubung gue teman yang baik dan nggak sombong, seperti biasa, gue lemparlah pertanyaan ke teman-teman di fb dan mp, yang bunyinya seperti ini:
"Mau ketemuan sama Raditya Dika@ps, ada yang mau nitip pertanyaan?"
Kali gituh ada salah satu dari teman gue yang ngefans banget sama si Radit dan sudah sejak dulu memendam satu pertanyaan, yang kalau nggak disampaikan bakal terjadi sesuatu dengan mereka. Nah, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, makanya gue mau bersusah-susah menampung pertanyaan mereka. Beeuh, bener-bener berjiwa pahlawan kan gue? *preeet!
Hheee, nggak ding! Berhubung juga gue teman yang jujur, gue beberin deh alasan kenapa melakukan itu semua. Pertama, jelas banget pengen pamer n membuat teman-teman iri dengan gue (minta digeplak!). Ke-dua, membantu meringankan kerjaan gue pastinya: menyiapkan daftar pertanyaan buat wawancara. Bahasa kerennya, sambil menyelam ngambil mutiara, gituh!
Dan tau nggak... Nggak disangka nggak dinyana yaaa, respon teman-teman okeh punya dan kreatif gile! Begini contohnya:
"Radit, udah punya cewek lagi belom? Kalau belom, gue bersedia kok gantiin Sherina. Hhee" (Gue jawab: nggak janji ya ditanyain. Sesuatu banget sih pertanyaannya. Hheee)
"Tolong tanyain, Radit bener kan marganya Nasution?" (Gue jawab: bener-bener penting ini pertanyaan. Tapi urgensinya apa ya?"
"Owh, jadinya sama Radit, ya Nje? Sip dah, mau nentuin tanggal, kan? Sukses yaaa."(Gue jawab: minta dijitak ini orang!)
"Radit kapan lulus?"
Hheee, kreatif beudh, kan? Eh tapi ada lagi yang lebih kreatif, waktu gue melempar pertanyaan buat Maher Zein. Nggak kalah kreatif dari yang di atas. Niih contohnya:
"Maher kenapa sih make topi terus?" (Gue jawab: soalnya palanya lumayan plontos, malu kali!)
"Coba sodorin bakso dan nasgor, dia suka yang mana?" (Gue jawab: nasi uduk!)
"Maher kapan ngeluarin album terbaru? Hheee... Standar banget ya pertanyaannya..." (gue jawab: iya... Std banget. Hheee)
"Maher... Would you marry me? Hheee." (Gue jawab: wah, sayang banget... Doi udah beranak satu!)
Saking kreatifnya, sampe-sampe nggak ada satupun yang gue tanyakan baik ke Radit maupun Maher. Hheee. Yang ke Maher, karena pertanyaannya nggak ada yang oke punya, yang ke Radit karena gue telat banget sampe PS. Raditnya udah keburu ada acara di kota tua, katanya. Huuuu, penonton kecewe!
Cerita ke-dua:
Sabtu pagi waktu gue mau ke tukang sayur buat nyuci baju, eh beli sayur... Ketemu sama salah satu ibu teman main badminton di rt sebelah yang biasa dipanggil Ummni. Ceritanya doi lagi nungguin anaknya yang mau berangkat manasik haji dari TK-nya. Dan terjadilah percakapan maha penting sekampung Ceger:
"Nu', ntar malem main badminton ya kalau nggak ujan..."
"Siiip. Insya Allah, Mi."
"Oiya, jadi ikutan arisan kan? 200 per bulan. Yang ikut 12 orang."
"Iya donk, Mi. Ikutan..."
"Satu apa dua?"
"Satu aja, ngos-ngosan kalau dua. Hheee."
"Yah, kali aja gitu mau dua... Lumayan buat beli kambing tahun depan. Hheee. Yaudah deh, mau ke tukang sayur, kan? Jangan lupa ntar malem main badminton yaaa."
"Iya, Mi. Beres..."
Wah, senangnya... Padahal gue baru main tiga kali lho sama si Umi dan ibu-ibu lainnya. Eh udah diajakin main lagi. Diajakin ikut arisan pula... Uhuy, satu loncatan terbaik buat deketin ibu-ibu di dekat rumah!
Nah, jadi, so... kesimpulannya adalah: Mari kita isi sepuluh malam pertama di bulan Zulhijjah tahun ini dengan ibadah-ibadah terbaik. Makin getol sholat, baca Quran, n zikirnya, yeesss... Biar dapet gelar husnul khotimah gituh di penghujung tahun ini. Okokok?
Eh tunggu, itu kan materi pengajian gue sama Ustadzah Sabtu kemarin...
Terus nyambungnya apa?
Ya nggak ada... Kan judulnya aja Jaka Sembung naik odong-odong... Nggak nyambung doooonk! Hheee...
Tapi Last but not least, biar nggak diraguin keanakUIan gue, baiklah gue cari kesimpulan dua cerita penting di atas....
Hmmm, mungkin kesempatan nggak pernah datang dua kali. So, jangan pernah lewatin kesempatan kala ia datang menghampiri. Jangan sampe mengulang penyesalan nggak jadi wawancara Radit cuma gara-gara terlalu santai hingga terkena macetnya Jakarta (walaupun udah naik bis TransJakarta). Jangan sampe juga nyesel di kemudian hari nggak bisa deket sama tetangga. Kalau mereka sudah kasih lampu hijau, buruan tancap gas buat ngedekatin mereka. Melalui badminton dan arisan, misalnya...
Gimana, gimana...
Pusing abis naik odong-odong, Jaka Sembung makan ikan... Nyambung, kaaan? XD
Diundang buat ketemu sama Raditya Dika??? Wuiiih..... Appaaaaa? Wooooot? Hmmm, biasa aja! Hheee.
Secara dulu kita tetanggaan gituh SMA-nya. Doi anak 70, gue anak 6 yang tiada hari, bulan,bahkan tahun yang berlalu tanpa tawuran. Cuma angkatan kita aja yang beda jauh. Jadi walaupun tetanggaan, doi beloman pernah ketemu sama gue deh. Ckckck... Kasian banget ya si Radit! (ini yang terkenal sebenarnya gue apa Radit sih?)
Tapi asli, gue biasa aja tuh mau ketemuan dan nemenin temen buat wawancara doi di salah satu toko buku di Plaza Senayan. Lagian kan kita sama-sama manusia yang doyan makan nasi dan biasa melakukan ekskresi di kamar mandi tiap pagi. So, nggak perlu lah ya mengagumi berlebihan... Bukan begituh?
Hanya aja, berhubung gue teman yang baik dan nggak sombong, seperti biasa, gue lemparlah pertanyaan ke teman-teman di fb dan mp, yang bunyinya seperti ini:
"Mau ketemuan sama Raditya Dika@ps, ada yang mau nitip pertanyaan?"
Kali gituh ada salah satu dari teman gue yang ngefans banget sama si Radit dan sudah sejak dulu memendam satu pertanyaan, yang kalau nggak disampaikan bakal terjadi sesuatu dengan mereka. Nah, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, makanya gue mau bersusah-susah menampung pertanyaan mereka. Beeuh, bener-bener berjiwa pahlawan kan gue? *preeet!
Hheee, nggak ding! Berhubung juga gue teman yang jujur, gue beberin deh alasan kenapa melakukan itu semua. Pertama, jelas banget pengen pamer n membuat teman-teman iri dengan gue (minta digeplak!). Ke-dua, membantu meringankan kerjaan gue pastinya: menyiapkan daftar pertanyaan buat wawancara. Bahasa kerennya, sambil menyelam ngambil mutiara, gituh!
Dan tau nggak... Nggak disangka nggak dinyana yaaa, respon teman-teman okeh punya dan kreatif gile! Begini contohnya:
"Radit, udah punya cewek lagi belom? Kalau belom, gue bersedia kok gantiin Sherina. Hhee" (Gue jawab: nggak janji ya ditanyain. Sesuatu banget sih pertanyaannya. Hheee)
"Tolong tanyain, Radit bener kan marganya Nasution?" (Gue jawab: bener-bener penting ini pertanyaan. Tapi urgensinya apa ya?"
"Owh, jadinya sama Radit, ya Nje? Sip dah, mau nentuin tanggal, kan? Sukses yaaa."(Gue jawab: minta dijitak ini orang!)
"Radit kapan lulus?"
Hheee, kreatif beudh, kan? Eh tapi ada lagi yang lebih kreatif, waktu gue melempar pertanyaan buat Maher Zein. Nggak kalah kreatif dari yang di atas. Niih contohnya:
"Maher kenapa sih make topi terus?" (Gue jawab: soalnya palanya lumayan plontos, malu kali!)
"Coba sodorin bakso dan nasgor, dia suka yang mana?" (Gue jawab: nasi uduk!)
"Maher kapan ngeluarin album terbaru? Hheee... Standar banget ya pertanyaannya..." (gue jawab: iya... Std banget. Hheee)
"Maher... Would you marry me? Hheee." (Gue jawab: wah, sayang banget... Doi udah beranak satu!)
Saking kreatifnya, sampe-sampe nggak ada satupun yang gue tanyakan baik ke Radit maupun Maher. Hheee. Yang ke Maher, karena pertanyaannya nggak ada yang oke punya, yang ke Radit karena gue telat banget sampe PS. Raditnya udah keburu ada acara di kota tua, katanya. Huuuu, penonton kecewe!
Cerita ke-dua:
Sabtu pagi waktu gue mau ke tukang sayur buat nyuci baju, eh beli sayur... Ketemu sama salah satu ibu teman main badminton di rt sebelah yang biasa dipanggil Ummni. Ceritanya doi lagi nungguin anaknya yang mau berangkat manasik haji dari TK-nya. Dan terjadilah percakapan maha penting sekampung Ceger:
"Nu', ntar malem main badminton ya kalau nggak ujan..."
"Siiip. Insya Allah, Mi."
"Oiya, jadi ikutan arisan kan? 200 per bulan. Yang ikut 12 orang."
"Iya donk, Mi. Ikutan..."
"Satu apa dua?"
"Satu aja, ngos-ngosan kalau dua. Hheee."
"Yah, kali aja gitu mau dua... Lumayan buat beli kambing tahun depan. Hheee. Yaudah deh, mau ke tukang sayur, kan? Jangan lupa ntar malem main badminton yaaa."
"Iya, Mi. Beres..."
Wah, senangnya... Padahal gue baru main tiga kali lho sama si Umi dan ibu-ibu lainnya. Eh udah diajakin main lagi. Diajakin ikut arisan pula... Uhuy, satu loncatan terbaik buat deketin ibu-ibu di dekat rumah!
Nah, jadi, so... kesimpulannya adalah: Mari kita isi sepuluh malam pertama di bulan Zulhijjah tahun ini dengan ibadah-ibadah terbaik. Makin getol sholat, baca Quran, n zikirnya, yeesss... Biar dapet gelar husnul khotimah gituh di penghujung tahun ini. Okokok?
Eh tunggu, itu kan materi pengajian gue sama Ustadzah Sabtu kemarin...
Terus nyambungnya apa?
Ya nggak ada... Kan judulnya aja Jaka Sembung naik odong-odong... Nggak nyambung doooonk! Hheee...
Tapi Last but not least, biar nggak diraguin keanakUIan gue, baiklah gue cari kesimpulan dua cerita penting di atas....
Hmmm, mungkin kesempatan nggak pernah datang dua kali. So, jangan pernah lewatin kesempatan kala ia datang menghampiri. Jangan sampe mengulang penyesalan nggak jadi wawancara Radit cuma gara-gara terlalu santai hingga terkena macetnya Jakarta (walaupun udah naik bis TransJakarta). Jangan sampe juga nyesel di kemudian hari nggak bisa deket sama tetangga. Kalau mereka sudah kasih lampu hijau, buruan tancap gas buat ngedekatin mereka. Melalui badminton dan arisan, misalnya...
Gimana, gimana...
Pusing abis naik odong-odong, Jaka Sembung makan ikan... Nyambung, kaaan? XD
Jumat, 28 Oktober 2011
Ngareb Jadi Istri Ustadz... So What?
"Gue jadi istri Ustadz? Mimpiiii!" kata Markonah suatu pagi di depan cermin.
"Lah emang kenapa? Nggak ada yang mustahil di dunia ini. Never say never, kata JB," Munaroh mnimpali.
"Ngomong masih cablak, ilmu Islam masih cetek, baca Quran nggak beraturan banget nadanya, pake jilbab nutup dada sih... tapi masih suka yang warna/i! Imposible banget ada Ustadz yang mau. Jangankan mau, ngelirik juga ogah kaleee!"
"Yaaah, nggak suka nonton infotainment si, lo, Markon! Itu buktinya, Ustadz Markojim yang gahol abis. Doi santer diberitain pernah deket sama penyanyi yang suka ngomong sesuatu banget! Belom lagi artis berstatus janda yang sekarang jadi anggota dewan dari partai burung gereja, disinyalir bakal nikah sama Ustadz, lho!"
"Ah, elo mah percaya banget sama infotainment! Ga baik, ghibah! Lagian, mereka kan jelas udah punya satu modal sakti mandraguna para wanita: cantik! Nah gue... Pas-pasan!"
"Ah, terserah elo deh, Markon! Kalau gue sih, biar tampang pas-pasan n kelakuan masih muslimah KW 2, pede aja lagi. Inget aja kata Giring Nidji: Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan hati Ustadz! Hheee..." Munaroh mengakhiri perdebatan maha penting sejagad, antara dua insan pas-pasan. Markonah? Membleee. Hheee.
Pernah mengalami masa-masa seperti Markonah? Bawaannya underestimet sama diri sendiri, ngeliat orang lain WAH sedang diri sendiri dibilang akhwat kelas BAWAH, nggak berani memimpikan calon pendamping hidup yang lebih di atas kita? Yaaah, kalah sama Munaroh kalau begitu. Kasian kasian kasian!
Apa salahnya sih bermimpi kayak gitu? Wong mimpi masih free of charge, kok! Gratis!
Pernah dengar nggak kisah cinta Katie Holmes n Tom Cruise? Hheee, penting banget ya gue! Biarin, yang penting ada pelajaran yang bisa kita ambil dari situ. Ceritanya, Katie Holmes itu bener-bener kepincut sama artis Hollywood yang gantengnya dari ubun-ubun sampe ujung jempol kaki itu (jadi, Tom Cruis itu tampangnya dari atas sampe bawah gitu? :-P).
Cuma masalahnya, siapa sih Katie? Kalau mau dibanding-bandingin sama aktris Hollywood lain yang tampangnya caem-caem punya, jelas banget jauhnya. Apalagi kalau mau disandingkan dengan Tom, bak langit dan dasar sumur, maybe!
Tapi, apakah Katie merasa cintanya akan bertepuk sebelah tangan hingga akhir hayatnya? Atau bahasa suku Zimbabwe-nya: bagai punuk merindukan bulan (act, gue nggak ngerti juga arti punuk itu apa. Yang masih keturunan Zimbabwe, translete, pliiisss...).
Ternyata, nggak sama sekali, MPman MPwati! Katie yakin seyakinnya bisa bersanding dengan Tom.
Caranya? Hanya bermimpi tiap hari. Mengikutsertakan semesta raya untuk mewujudkan impiannya. Dan hasilnya... Super sekali, Tom melamar Katie!
Tolong jangan tanya kenapa, gimana, kapan, dll-nya... Gue juga nggak tau detail-detailnya, dan tau cerita itu juga dari buku. Kalau nggak salah buku tentang motivasi atau marketing, gituh.
Jadi, percaya kan kalau nggak ada yang mustahil di dunia ini, even itu tentang jodoh?
"Yah, tapi itu kan masih liat fisik. Lah kalau ustadz (yang masih waras), fisik kan nomor ke sekian. Paham agama n cantik akhlak, pasti itu duluan yang dicari. Dan gue, seperti kata Munaroh: kelakuan masih muslimah KW2!"
Orek, orek... Kalau soal itu, gue juga punya bukti kalau lo boleh bermimpi jadi istri ustadz. Semoga lo berhenti merendah-rendahkan diri sendiri yang emang udah rendah *kidding.
Jadi tadi sore, gue dan teman-teman bersilaturahim ke rumah salah satu senior yang udah berstatus sebagai isteri ustadz sejak beberapa tahun yang lalu. Dan kalau lo mau tau, senior gue ini nggak seperti kebanyakan isteri seorang ustadz pada umumnya. Maksud gue, doi ini akhwat KW 1 sih, tapi udah bawaan lahir terlahir sebagai seorang sanguin sejati: kocak, lumayan blak-blakan, pemimpin geng Rhoma Irama Lovers di kantornya (kata temen yang udah senior juga), dllsb ciri orang sanguin.
Bahkan di salah satu tulisannya dalam buku antologi Kekonyolan Dalam Rumah Tangga, doi menuturkan waktu pertama-tama nikah, sering dianggap bukan isteri ustadz oleh mereka yang mencari ustadz via telepon. Jauh dari bijaksana gituh tutur katanya.
Terus, kok bisa ya itu Ustadz kecantol sama senior gue? Ya bisa aja, namanya juga jodoh. Hidung siapa (baca: who knows)? Kalau Allah udah berkehendak kita jadi isteri ustadz, nggak ada satu orang pun, bahkan penyanyi yang sesuatu banget, yang bisa menyelak kita. Tinggal kitanya aja yang berani nggak bermimpi?
Karena jangan salah, mimpi itu membuat hidup lebih bergairah dan membuat kita semangat meminta aka berdoa sama Allah! Mau minta jadi isteri siapa? Ustadz, milyuner, Dude Herlino, atau siapa lagi kek, doa aja! Tapi jangan lupa mantesin diri juga ya dari sekarang. Pelan-pelan sajaaa (tolong nyanyikan dengan suara Tantri Kotak yang ngerock banget!)... Itu poin lain yang nggak kalah penting!
*senior gue itu secara karakter hampir-hampir mirip kayak gue, lho... Apakah nasib gue akan sama dengan doi? Hanya Allah yang tau (berharapnya sih iya XD).
Tulisan ini hanya untuk hiburan semata. Tolong jangan bilang: oh, Nje bermimpi jadi isteri Ustadz? Ustadz siapa?. Yayaya... ;-)
"Lah emang kenapa? Nggak ada yang mustahil di dunia ini. Never say never, kata JB," Munaroh mnimpali.
"Ngomong masih cablak, ilmu Islam masih cetek, baca Quran nggak beraturan banget nadanya, pake jilbab nutup dada sih... tapi masih suka yang warna/i! Imposible banget ada Ustadz yang mau. Jangankan mau, ngelirik juga ogah kaleee!"
"Yaaah, nggak suka nonton infotainment si, lo, Markon! Itu buktinya, Ustadz Markojim yang gahol abis. Doi santer diberitain pernah deket sama penyanyi yang suka ngomong sesuatu banget! Belom lagi artis berstatus janda yang sekarang jadi anggota dewan dari partai burung gereja, disinyalir bakal nikah sama Ustadz, lho!"
"Ah, elo mah percaya banget sama infotainment! Ga baik, ghibah! Lagian, mereka kan jelas udah punya satu modal sakti mandraguna para wanita: cantik! Nah gue... Pas-pasan!"
"Ah, terserah elo deh, Markon! Kalau gue sih, biar tampang pas-pasan n kelakuan masih muslimah KW 2, pede aja lagi. Inget aja kata Giring Nidji: Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan hati Ustadz! Hheee..." Munaroh mengakhiri perdebatan maha penting sejagad, antara dua insan pas-pasan. Markonah? Membleee. Hheee.
Pernah mengalami masa-masa seperti Markonah? Bawaannya underestimet sama diri sendiri, ngeliat orang lain WAH sedang diri sendiri dibilang akhwat kelas BAWAH, nggak berani memimpikan calon pendamping hidup yang lebih di atas kita? Yaaah, kalah sama Munaroh kalau begitu. Kasian kasian kasian!
Apa salahnya sih bermimpi kayak gitu? Wong mimpi masih free of charge, kok! Gratis!
Pernah dengar nggak kisah cinta Katie Holmes n Tom Cruise? Hheee, penting banget ya gue! Biarin, yang penting ada pelajaran yang bisa kita ambil dari situ. Ceritanya, Katie Holmes itu bener-bener kepincut sama artis Hollywood yang gantengnya dari ubun-ubun sampe ujung jempol kaki itu (jadi, Tom Cruis itu tampangnya dari atas sampe bawah gitu? :-P).
Cuma masalahnya, siapa sih Katie? Kalau mau dibanding-bandingin sama aktris Hollywood lain yang tampangnya caem-caem punya, jelas banget jauhnya. Apalagi kalau mau disandingkan dengan Tom, bak langit dan dasar sumur, maybe!
Tapi, apakah Katie merasa cintanya akan bertepuk sebelah tangan hingga akhir hayatnya? Atau bahasa suku Zimbabwe-nya: bagai punuk merindukan bulan (act, gue nggak ngerti juga arti punuk itu apa. Yang masih keturunan Zimbabwe, translete, pliiisss...).
Ternyata, nggak sama sekali, MPman MPwati! Katie yakin seyakinnya bisa bersanding dengan Tom.
Caranya? Hanya bermimpi tiap hari. Mengikutsertakan semesta raya untuk mewujudkan impiannya. Dan hasilnya... Super sekali, Tom melamar Katie!
Tolong jangan tanya kenapa, gimana, kapan, dll-nya... Gue juga nggak tau detail-detailnya, dan tau cerita itu juga dari buku. Kalau nggak salah buku tentang motivasi atau marketing, gituh.
Jadi, percaya kan kalau nggak ada yang mustahil di dunia ini, even itu tentang jodoh?
"Yah, tapi itu kan masih liat fisik. Lah kalau ustadz (yang masih waras), fisik kan nomor ke sekian. Paham agama n cantik akhlak, pasti itu duluan yang dicari. Dan gue, seperti kata Munaroh: kelakuan masih muslimah KW2!"
Orek, orek... Kalau soal itu, gue juga punya bukti kalau lo boleh bermimpi jadi istri ustadz. Semoga lo berhenti merendah-rendahkan diri sendiri yang emang udah rendah *kidding.
Jadi tadi sore, gue dan teman-teman bersilaturahim ke rumah salah satu senior yang udah berstatus sebagai isteri ustadz sejak beberapa tahun yang lalu. Dan kalau lo mau tau, senior gue ini nggak seperti kebanyakan isteri seorang ustadz pada umumnya. Maksud gue, doi ini akhwat KW 1 sih, tapi udah bawaan lahir terlahir sebagai seorang sanguin sejati: kocak, lumayan blak-blakan, pemimpin geng Rhoma Irama Lovers di kantornya (kata temen yang udah senior juga), dllsb ciri orang sanguin.
Bahkan di salah satu tulisannya dalam buku antologi Kekonyolan Dalam Rumah Tangga, doi menuturkan waktu pertama-tama nikah, sering dianggap bukan isteri ustadz oleh mereka yang mencari ustadz via telepon. Jauh dari bijaksana gituh tutur katanya.
Terus, kok bisa ya itu Ustadz kecantol sama senior gue? Ya bisa aja, namanya juga jodoh. Hidung siapa (baca: who knows)? Kalau Allah udah berkehendak kita jadi isteri ustadz, nggak ada satu orang pun, bahkan penyanyi yang sesuatu banget, yang bisa menyelak kita. Tinggal kitanya aja yang berani nggak bermimpi?
Karena jangan salah, mimpi itu membuat hidup lebih bergairah dan membuat kita semangat meminta aka berdoa sama Allah! Mau minta jadi isteri siapa? Ustadz, milyuner, Dude Herlino, atau siapa lagi kek, doa aja! Tapi jangan lupa mantesin diri juga ya dari sekarang. Pelan-pelan sajaaa (tolong nyanyikan dengan suara Tantri Kotak yang ngerock banget!)... Itu poin lain yang nggak kalah penting!
*senior gue itu secara karakter hampir-hampir mirip kayak gue, lho... Apakah nasib gue akan sama dengan doi? Hanya Allah yang tau (berharapnya sih iya XD).
Tulisan ini hanya untuk hiburan semata. Tolong jangan bilang: oh, Nje bermimpi jadi isteri Ustadz? Ustadz siapa?. Yayaya... ;-)
Kamis, 27 Oktober 2011
Kala Doi Minta Bukti
Markojim: Ane uhibukki fillah, Ukht. Aku padamu...
Markonah: Apa buktinya, Akh?
Markojim: Nantikanku di batas waktu. Dua tahun lagi, Ukht...
Markonah: Wooot? Ga kelamaan? Nggak mau, ane minta bukti sekarang. Kalau nggak... Elo, gue, end!
Markojim: Yah, kok gitu sih, Ukht? 1 tahun lagi deh...
Marknah: Nggak mau, sekarang. Titik.
Markojim: Enam bulan?
Markonah: Nggak. Udah-udah... Lo kira gue apaan disuruh nunggu-nunggu? Sorry, ya!
Markonah: Yaaah..
(sad ending)
*Noted: Cerita di atas hanyalah fiktif belaka. Kalau ada kesamaan nama dan karakter, benar-benar faktor ketidaksengajaan.*
Eh iya nggak sih, kalau ada yang bilang cinta sama lo, lo pasti minta bukti. Iya nggak? Menurut gue, kalau orang masih waras, harusnya sih iya. Berkaca pada mahluk paling waras sedunia, ortu kita, yang menunjukkan segala bentuk cintanya demi membuktikan guedenya cinta mereka pada kita. Sebaliknya, berkaca pada mahluk paling nggak waras sedunia, kekasih tak halal (baca: pacar), mereka memberikan apapun kecuali satu: ikatan pernikahan. Alasan belum sanggupnya macem-macem deh pokoknya.
Orek, kalau manusia aja kayak begitu (baca: Markonah yang minta bukti). Apalagi Allah, yeesss..
Gue punya pengalaman ketika Allah minta bukti. Kejadiannya kemarin pagi, nggak tau ada angin apa, gue berujar dalam hati:
"ya Allah, pagi ini kuniatkan berangkat kerja hanya untuk mencari ridhoMu. Mudah-mudahan Kau ridho dengan semua yang kulakukan hari ini. Kerjaanku pun membawa manfaat bagi banyak orang. Amin"
Kayak-kayaknya sih, langit sedikit kaget dengan doa gue, makanya Jakarta kemarin hujan besar di beberapa titik. Heee. (yang percaya omongan gue berarti syirik).
Then, sekejap Allah minta buktinya di stasiun Pondok Ranji. Gue ketinggalan kereta ekonomi murah meriah menuju Tanah Abang. Konsekuensinya, gue harus mnunggu kereta ekonomi yang harganya 4kai lipat kereta ekonomi. Whew... Makin gede deh ongkos pagi ini :-(.
Sepanjang perjalanan menuju st Tanah Abang, otak gue berfikir keras bagaimana caranya biar ongkos tetap normal seperti biasanya. Dan satu-satunya jalan adalah nggak beli karcis kereta selanjutnya yang bakal nganterin gue menuju st Manggarai. Seketika, Angel dan Devil berperang mengelilingi gue dalam mengambil keputusan iya atau nggak beli karcis. Kira-kira begini perdebaan mereka:
Devil: Ya ilah, ketimbang Tanah Abang-Mangarai, cuma lewatin dua stasiun, nggak papa kale nggak beli karcis juga.
Angel: Emang deket, tapi kalau tiba-tiba petugasnya keliling mintain karcis dan elo nggak punya, apa kata dunia? Udah, beli aja. Cuma 6ribu perak, abis gajian juga...
Devil: Nggak bakalan, petugasnya itu biasa mulai keliling di st pasar minggu. Begitu kan kata Pak Ahmad yang biasa naik kereta ini. Udah, nggak usah beli. Ongkos lo bakal membengkak pagi ini...
Angel: Iya petugasnya nggak keliling, tapi inget sama niat n doa lo tadi pagi di angkot. Katanya berharap kerjaan lo dapetin ridho Allah, caranya juga kudu bener, dooonk! Lagian, ngerugiin negara banget kalo nggak beli tiket.
Devil: Ya elah... Ngerugiin negara? Masih banyak yang lebih gede dari lo yang ngerugiin negara! Udah nggak usah beli. Titik
Angel: Ya udin, terserah lo aja. Pesen gue cuma satu: jujur itu penting meskipun nggak ada yang ngeliat... Inget pesan Mamak lo!
Ahhaaa!
Wokeh, gue sudah dapet jawabannya. Gue putuskan untuk tetap beli tiket kereta. Yeeey!
Dan tahukah, MPman MPwati... Di dalam kereta menuju st Manggarai, nggak biasa-biasanya itu petugas karcis mondar-mandir di dalam kereta. Nggak cuma satu orang, tapi lebih dari tiga! Emang sih mereka nggak meiksain karcis, tapi nggak kebayang aja gimana ketakutan n guilty feeling-nya gue seandainya tadi nggak beli karcis. Pasti mereka udah kayak dementor yang siap mengisap kebahagiaan gue dan bisa mendadak pingsan kayak Harry Potter pastinya!
Alhamdulillah, keluar stasiun rasanya plong banget. Tanpa beban! Cuma satu yang ggak terwujud. Rencananya kemarin pagi gue mau jajal naik bemo dari st ke terminal manggarai. Hhee, deket banget emang n ga meaning sangad. Cuma penasaran aja gimana rasanya naik bemo. Yaaa, may be next time kali ya... Bemo kan tiap hari adanya, ketinggalan kereta ekonomi nggak tiap harijuga.
Pelajarannya, biar deh ongkos mahal hari ini menjadi pengingat gue biar berangkat lebih pagian tiap hari. Biar nggak ketinggalan kereta ekonomi dan nggak membuka ruang untuk berlaku curang juga gituuuuh... XD
Markonah: Apa buktinya, Akh?
Markojim: Nantikanku di batas waktu. Dua tahun lagi, Ukht...
Markonah: Wooot? Ga kelamaan? Nggak mau, ane minta bukti sekarang. Kalau nggak... Elo, gue, end!
Markojim: Yah, kok gitu sih, Ukht? 1 tahun lagi deh...
Marknah: Nggak mau, sekarang. Titik.
Markojim: Enam bulan?
Markonah: Nggak. Udah-udah... Lo kira gue apaan disuruh nunggu-nunggu? Sorry, ya!
Markonah: Yaaah..
(sad ending)
*Noted: Cerita di atas hanyalah fiktif belaka. Kalau ada kesamaan nama dan karakter, benar-benar faktor ketidaksengajaan.*
Eh iya nggak sih, kalau ada yang bilang cinta sama lo, lo pasti minta bukti. Iya nggak? Menurut gue, kalau orang masih waras, harusnya sih iya. Berkaca pada mahluk paling waras sedunia, ortu kita, yang menunjukkan segala bentuk cintanya demi membuktikan guedenya cinta mereka pada kita. Sebaliknya, berkaca pada mahluk paling nggak waras sedunia, kekasih tak halal (baca: pacar), mereka memberikan apapun kecuali satu: ikatan pernikahan. Alasan belum sanggupnya macem-macem deh pokoknya.
Orek, kalau manusia aja kayak begitu (baca: Markonah yang minta bukti). Apalagi Allah, yeesss..
Gue punya pengalaman ketika Allah minta bukti. Kejadiannya kemarin pagi, nggak tau ada angin apa, gue berujar dalam hati:
"ya Allah, pagi ini kuniatkan berangkat kerja hanya untuk mencari ridhoMu. Mudah-mudahan Kau ridho dengan semua yang kulakukan hari ini. Kerjaanku pun membawa manfaat bagi banyak orang. Amin"
Kayak-kayaknya sih, langit sedikit kaget dengan doa gue, makanya Jakarta kemarin hujan besar di beberapa titik. Heee. (yang percaya omongan gue berarti syirik).
Then, sekejap Allah minta buktinya di stasiun Pondok Ranji. Gue ketinggalan kereta ekonomi murah meriah menuju Tanah Abang. Konsekuensinya, gue harus mnunggu kereta ekonomi yang harganya 4kai lipat kereta ekonomi. Whew... Makin gede deh ongkos pagi ini :-(.
Sepanjang perjalanan menuju st Tanah Abang, otak gue berfikir keras bagaimana caranya biar ongkos tetap normal seperti biasanya. Dan satu-satunya jalan adalah nggak beli karcis kereta selanjutnya yang bakal nganterin gue menuju st Manggarai. Seketika, Angel dan Devil berperang mengelilingi gue dalam mengambil keputusan iya atau nggak beli karcis. Kira-kira begini perdebaan mereka:
Devil: Ya ilah, ketimbang Tanah Abang-Mangarai, cuma lewatin dua stasiun, nggak papa kale nggak beli karcis juga.
Angel: Emang deket, tapi kalau tiba-tiba petugasnya keliling mintain karcis dan elo nggak punya, apa kata dunia? Udah, beli aja. Cuma 6ribu perak, abis gajian juga...
Devil: Nggak bakalan, petugasnya itu biasa mulai keliling di st pasar minggu. Begitu kan kata Pak Ahmad yang biasa naik kereta ini. Udah, nggak usah beli. Ongkos lo bakal membengkak pagi ini...
Angel: Iya petugasnya nggak keliling, tapi inget sama niat n doa lo tadi pagi di angkot. Katanya berharap kerjaan lo dapetin ridho Allah, caranya juga kudu bener, dooonk! Lagian, ngerugiin negara banget kalo nggak beli tiket.
Devil: Ya elah... Ngerugiin negara? Masih banyak yang lebih gede dari lo yang ngerugiin negara! Udah nggak usah beli. Titik
Angel: Ya udin, terserah lo aja. Pesen gue cuma satu: jujur itu penting meskipun nggak ada yang ngeliat... Inget pesan Mamak lo!
Ahhaaa!
Wokeh, gue sudah dapet jawabannya. Gue putuskan untuk tetap beli tiket kereta. Yeeey!
Dan tahukah, MPman MPwati... Di dalam kereta menuju st Manggarai, nggak biasa-biasanya itu petugas karcis mondar-mandir di dalam kereta. Nggak cuma satu orang, tapi lebih dari tiga! Emang sih mereka nggak meiksain karcis, tapi nggak kebayang aja gimana ketakutan n guilty feeling-nya gue seandainya tadi nggak beli karcis. Pasti mereka udah kayak dementor yang siap mengisap kebahagiaan gue dan bisa mendadak pingsan kayak Harry Potter pastinya!
Alhamdulillah, keluar stasiun rasanya plong banget. Tanpa beban! Cuma satu yang ggak terwujud. Rencananya kemarin pagi gue mau jajal naik bemo dari st ke terminal manggarai. Hhee, deket banget emang n ga meaning sangad. Cuma penasaran aja gimana rasanya naik bemo. Yaaa, may be next time kali ya... Bemo kan tiap hari adanya, ketinggalan kereta ekonomi nggak tiap harijuga.
Pelajarannya, biar deh ongkos mahal hari ini menjadi pengingat gue biar berangkat lebih pagian tiap hari. Biar nggak ketinggalan kereta ekonomi dan nggak membuka ruang untuk berlaku curang juga gituuuuh... XD
Langganan:
Postingan (Atom)