Rabu, 16 Februari 2011

tema hari ini adalah batu, batu, dan batu! penggodok batu, kursi dan batu, batu ujian, batu sendi. *pagi2 re-read tulisan2 ust rahmat. keren!

AADG?? (Ada Apa Dengan Gempa??)

  Tidak berapa lama sebelum tulisan singkat ini dibuat, penulis menyaksikan berita di TV yang mengabarkan bahwa siang ini gempa kembali terjadi di dua tempat yang berjauhan di Indonesia, yakni di Manokwari (Papua) dan di Sukabumi (Bogor). Walau pun tidak mengetahui pukul berapa tepatnya gempa tersebut terjadi, namun lagi-lagi jelas bahwa hal ini sudah pasti merupakan peringatan dari Yang Maha Aziz. Itulah yang harus diyakini umat Islam Indonesia akan banyaknya bencana mulai dari banjir, kebakaran hutan, hingga gempa yang terjadi di Negara kita yang notabene Negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Perhatian penduduk dunia kini tersorot ke Indonesia, dan mungkin bukan hanya penduduk dunia tapi juga kita sebagai penduduk Indonesia agak sedikit bertanya-tanya mengapa Negara yang ada serambi Mekah dan serambi Madinah (baca NAD dan Gorontalo) di dalamnya yang diberikan bencana berturut-turut? Mengapa bukan Amerika atau negara-negara barat yang diberikan bencana-bencana tersebut? Padahal sudah jelas kemusyrikan dan kemaksiatan terjadi di mana-mana di Negara-negara tersebut… Mengapa bukan Israel yang sudah jelas penjajah terkejam nomor wahid di dunia yang diberikan bencana-bencana tersebut? Dan mengapa-mengapa lainnya yang intinya mengapa harus Indonesia??

Nah fren, that’s the point! Mengapa harus Indonesia? Karena begitu cintanya Sang Khalik terhadap kita (muslim Indonesia), diberikanlah bencana-bencana tersebut sebagai peringatan. Seperti perumpamaan yang terdapat dalam salah satu hadits Rasul bahwa jika seseorang diberikan musibah atau sakit oleh Allah Azza wa Jalla maka akan dirontokkan-Nya dosa-dosa orang tersebut dengan syarat orang tersebut ikhlas menerima musibah atau sakit yang menimpanya. Nah kesimpulannya apa? Bahwa Negara kita mungkin di mata Allah kini sedang bergelimang, berlumpur, dan bahkan banjir dengan dosa dan Ia berkehendak akan merontokkan dosa-dosa kita. Makanya diberilah musibah atau ‘sakit’ itu kepada kita. Kurang apa lagi coba? Benar-benar Ar-Rahim…

Mugkin akan ada yang mengatakan: ‘ah lu si enak yang tinggal di Jakarta, ga kena gempa makanya lu masih bias bilang kaya begitu..’ Eit, santai dulu fren! Masih ingat ga waktu gempa di Tasik kemarin? Orang-orang Jakarta juga ikut geger lho! Apalagi yang saat gempa tersebut terjadi sedang berada dalam gedung-gedung tinggi lantai 10 ke atas. Belum lagi banjir 5 tahunan dan kebakaran dimana-mana saking padat penduduknya. Itu peringatan juga kan? Nah untuk kita-kita yang tinggal di Jakarta juga jangan tenang-tenang aja. Tinggal nunggu waktu aja mungkin untuk hadirnya ‘tamu istimewa’ tersebut (na’udzubillah…). Secara kemaksiatan berlalu lalang di dekat kita setiap harinya. Dan kita? Mungkin kita termasuk dalam golongan orang yang tidak melakukan kemaksiatan-kemaksiatan yang dapat mengundang ‘tamu istimewa’ tersebut, tapi apakah kita sudah melakukan upaya sehingga orang di sekeliling kita terhindar dari berbuat maksiat? Masih inget kan kisah orang soleh yang tinggal di negeri dimana orang-orangnya melakukan kemaksiatan.. Ga tanggung-tanggung, ia juga diazab sama Allah! Atau kisah umat nabi Nuh yang umurnya sampai ratusan tahun namun tidak mau bertobat daqri perbuatan keji yang mereka lakukan. Maka Allah jadikan mereka sebagai salah satu umat yang paling hina seperti yang diceritakan dalam kalamuLlah (bias dibuka di QS 71: 1-28, lengkap banget ceritanya!!). So, minimal banget kita memepersiapkan diri kita sendiri dengan ibadah-ibadah untuk menghadapi ‘tamu istimewa’ tersebut. Selalu merasa was-was dan merasakan pengawasan-Nya sehingga ketika menjadi korban, husnul khatimah dapat kita raih.. Amiin.

Balik lagi bicarain kaitan antara sakitnya Negara kita dengan gempa dan musibah lain yang terjadi.. Belum lama santer berita yang membuktikan bahwa Negara kita sepertinya memang sedang sakit. Pertama, Putri Indonesia yang ternyata berasal dari provinsi NAD! Padahal kita tahu bahwa provinsi tersebut terkenal dengan penegakan syariat Islamnya. Menjadi masalah juga si sang Putri tidak mengenakan jilbab yang harusnya mencitrakan provinsinya, karena sebelum-sebelumnya Putri Aceh selalu mengenakan jilbab. Tapi yang menjadi masalah sekali adalah mengapa harus orang Aceh yang terpilih sebagai Putri Indonesia? Padahal kan dari ajang Putri Indonesia akan diikutkan lagi ke ajang Miss Universe.. bisa dibayangin orang Serambi Mekkah mengenakan bikini di hadapan orang banyak dan akan ditampilkan ke seluruh dunia!!! Tertawalah para musuh Islam…

Itu yang pertama. Masih ada lagi yang lebih heboh ternyata. Pernah dengar artis Jepang yang terkenal dengan blue filmnya? Maria Ozawa alias Miyabi… Bulan ini hampir datang ke Indonesia. Walau pun katanya bukan untuk bermain dalam blue film, melainkan dalam film komedi namun mengapa harus Miyabi? Semua orang terutama masyarakat Jepang tahu betul kalo ia termasuk salah satu icon Sex yang sedang naik daun saat ini, dan Negara muslim terbesar di dunia mengundangnya untuk bermain dalam film karya anak negeri ini… Benar-benar kreativitas yang kebablasan! Apalagi menurut salah satu tulisan di internet, kehadiran Miyabi ke Indonesia telah disetujui oleh Menkominfo yang kemarin (Muhammad nuh)! Jadi wajar kalau negeri ini sakit, wong pemimpinnya saja sakit! Untungnya masih ada MUI yang mengeluarkan fatwa haram atas kehadirannya dan masih ada juga beberapa masyarakat kita yang masih waras moralnya dengan melakukan aksi unjuk rasa sebelum kedatangan artis tersebut. Walhasil bersyukur lah kita karena gadis berdarah Jepang Canada tersebut tidak jadi datang, dan itu mungkin itu bisa jadi salah satu penangkal datangnya musibah di negeri kita.

Terakhir, seperti salah satu bait nasyid Izzis : ‘tetaplah bertahan dan bersiap siagalah!!’. Tetap bertahan di tengah kondisi lingkungan yang semakin bobrok ini dan bersiap siagalah akan hadirnya ‘tamu istimewa’ dari Allah. Perkuat dan pertajam rasa pengawasan Allah atas hamba-Nya dan senantiasa beribadah dan berdakwah di jalan-nya.. semoga Menkominfo yang baru bisa menolak hadirnya Miyabi-miyabi yang lain ke Indonesia.. (hidup Pak Menkominfo!! ^^,)

*foto: kampungtki.com

*tulisan jadul

Senin, 14 Februari 2011

Buah Cinta Islam Untuk Wanita Muslimah

Dalam Islam peran laki-laki dan perempuan di dunia ini semua sama, yakni untuk beribadah, memurnikan penghambaan hanya kepada Allah azza wa jalla semata. Seperti yang disebutkan-Nya dalam al-Qur’an yang mulia: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku” (Adz-Dzariyat: 56).
    Namun ketika berbicara tentang peran dan fungsinya dalam Islam, tentu masing-masing memiliki porsi berbeda. Dan sangat jelas sekali bahwa peran dan fungsi wanita muslimah dalam Islam menempatkannya pada derajat yang tinggi sebagai mahluk. Seperti yang dikatakan Prof. DR. Sulaiman Asyqar dalam buku Buah Cinta Al-Banna untuk Wanita: “Wanita muslimah mendapatkan tempat yang begitu tinggi dalam masyarakat muslim. Tempat yang menjamin terjaganya kemuliaan dan melindungi sisi-sisi dirinya sebagai manusia, serta tempat yang membentengi harga dirinya.”
    Apa gerangan yang membuat Islam begitu meninggikan derajat wanita muslimah? Ternyata jawabannya terletak pada 3 peran dan fungsi wanita muslimah baik sebagai seorang hamba, seorang isteri, seorang ibu, maupun sebagai bagian dari masyarakat muslim. Dari berbagai sumber yang penulis dapat, para ulama sepakat menyebutkan bahwa wanita muslimah memiliki 3 peran dan fungsi yang harus senantiasa dikembangkan baik oleh dirinya sendiri maupun orang-orang disekililingnya.
    Mar-atush sholihah—Seorang muslimah mempunyai kewajiban terus meng-up grading dirinya untuk menjadi muslimah yang sholihah. Di sini peran orang tua sangat besar dalam membentuknya menjadi wanita shalihah sejak ia masih dalam kandungan. Dan beranjak dewasa, ketika sudah dapat membedakan baik dan buruk, ia bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena begitu besar perannya untuk keluarga dan dakwah, sehingga ia harus men-sholihkan dirinya terlebih dahulu, memberikan ketaatan tertinggi kepada Allah semata sebagai syarat kokohnya keluarga dan dakwah Islam.
    Jauzatul muti’ah—Kalau peran mar-atush shalihah merupakan bentuk ketaatan wanita muslimah kepada Allah Swt, jauzatul muti’ah merupakan bentuk ketaatannya sebagai seorang isteri. Menunaikan kewajibannya, melayani suaminya, dan membuat suaminya bahagia terhadapnya tanpa mengabaikan hak-haknya sebagai seorang hamba dan seorang isteri. Ia mempunyai hak yang sama dalam pendidikan, pengambilan keputusan (termasuk berpolitik), dan berjihad. Seperti dikatakan Rasul dalam sebuah hadits: “Apabila wanita itu melakukan sholat dan bisa menjaga kehormatan dirinya serta taat kepada suaminya, maka ia dapat memasuki surga dari segala penjuru pintu yang ia sukai”
    Ummul madrasah—Inilah peran termulia seorang wanita muslimah. Ia lah madrasah pertama bagi keturunannya. Dari rahimnya generasai-generasi terbaik Islam lahir. Mujahid dan mujahidah tangguh yang mengenal Tuhannya dan membela negara dan Islam. Tengoklah kisah masa kecil Imam Syafi’i, siapakah yang senantiasa mengantarkannya bepergian dari satu majelis ilmu ke majelis ilmu lain memasuki satu negara keluar negara lain? Tidak lain dan tidak bukan adalah ibunya.
    Begitulah peran wanita muslimah dalam Islam. Peran besarnya baik bagi keluarga maupun dakwah membuatnya memang pantas untuk dimuliakan dan diposisikan di tempat tertinggi. Mungkin peran shahabiyah dapat kita jadikan acuan bagaimana menjadi wanita muslimah seharusnya. Ketika ibunda Khadijah menguatkan Rasulullah di awal dakwahnya yang sulit. Atau Khansa yang merelakan ke-empat anaknya untuk pergi ke medan jihad. Atau Sumayyah yang menjadi syahidah pertama kebanggan Islam. Keistimewaan peran itu harus senantiasa menjadi motivasi wanita muslimah memainkan peran dan fungsi terbaiknya dalam keluarga dan dakwah. Allahu a’lam bish showab..

*gambar: ainpunyacerita.blogspot.com

Rabu, 09 Februari 2011

Si Haus Ilmu dan Si Ahli Hikmah

MUSA, siapa sih yang nggak kenal dengan doi? Si pembelah laut merah yang jadi orang most wanted se-seantero Mesir di zaman fir'aun (Ramses II, ya?). Sedangkan Khidr, buat yang rajin baca surat Al-Kahfi tiap malam jumat, dan sesekali membaca terjemahnya, pasti kenal dengan nabi ini. Ahli ilmu pilihan Allah yang tingkah lakunya di luar batas kewajaran manusia (versi saya yang sering berfikir parsial dan ilmunya masih cetek banget, lho!).

Kalau berbicara tentang dua insan ini, sudah jelas corongnya adalah tholabul 'ilmi. Yang satu adalah hamba yang sangat haus ilmu, sedangkan yang satu lagi merupakan salah satu hamba terpilih yang dikaruniai begitu banyak hikmah. Menurut Syaikh Imam M. Ma’rifatullah al-Arsy, ia lah si penjaga sumber air di tengah segitiga bermuda yang airnya dapat membuat siapa saja yang meminumnya menjadi panjang umur.

Seandainya saya adalah Musa dan diberikan guru seperti Khidr, sudah pasti saya akan melakukan apa yang dilakukan Musa kala itu. Protes, protes, dan protes! Bagaimana tidak jika sang guru berulang-ulang melakukan hal yang di luar kewajaran manusia? Namun begitulah Allah hendak memberikan pelajaran kepada kita. Tidak pernah pandang bulu Ia, karena seorang nabi pun ia jadikan contoh untuk pelajaran bagi manusia.

Diceritakan waktu itu Nabi Musa tengah berdiri di depan Bani Israil. Seseorang bertanya siapa yang paling berilmu diantara mereka, yang dijawab dengan lantang oleh Musa, "Saya!". Sombong juga nih, nabi.. Makanya, saat itu juga Allah menegurnya dan menunjukkan Khidr, hamba-Nya yang lebih berilmu yang tinggal di pertemuan dua lautan.

Nah, bedanya Musa dengan saya (kita juga kali, ya..). Mendapat teguran seperti itu, bukannya marah malah semakin membuncah dadanya untuk berguru kepada orang yang dimaksud Tuhannya. "Di mana aku dapat menemuinya, Tuhanku?" tawadhu' bener, ye..

Langsung saja ia menempuh perjalanan jauh dengan ditemani pelayannya menuju tempat yang ditunjukkan Allah. Dan begitu bertemu dengan orang yang dicari, ia pun mendeklarasikan hasratnya untuk berilmu dan menjadikan Khidr sebagai gurunya. Awalnya Khidr meragukan kesabaran Musa untuk berguru kepadanya, namun dengan segenap hati ia berjanji tidak akan  menentangnya dalam perkara apapun. "Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun." (18:69)

Baru beberapa saat perjalanan, terbukti juga keraguan Khidr. Musa mengingkari janjinya ketika di tengah perjalanan Khidr melubangi perahu yang mereka dan penumpang lain tumpangi. "Mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya? Sungguh, engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar." (18:71). Setelah mendapat peringatan dari Khidr akan janjinya di awal pertemuan untuk tidak menentangnya, Musa pun segera meminta maaf. Mereka pun melanjutkan perjalanan. Begini nih, murid yang tawadhu', cepat sadar kalau sotoy..

Lagi, di tengah perjalanan Khidr "bertingkah" dengan membunuh seorang anak muda yang mereka jumpai. Reflek Musa berontak melihat kelakuan sang guru. "Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat munkar." (18: 74). Untuk ke-dua kalinya Khidr memperingatkan Musa akan janjinya dulu.

Merasa malu telah menyalahi ucapannya, ia pun berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka jangan lagi engkau memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya engkau sudah cukup (bersabar) menerima alasan dariku." (18:76).

Mereka pun berjalan lagi. Tak berapa lama, di sebuah negeri mereka minta dijamu oleh penduduknya, namun tidak ada satupun yang mau menjamu mereka. Akhirnya, keduanya mendapatkan dinding rumah yang hampir roboh, lalu Khidr malah menegakkannya.

Kali ini, habis sudah kesabaran Musa. Ia tak sanggup untuk tidak mengomentari. "Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu." Habis sudah kesempatan Musa. Ia pun harus merelakan banyak hikmah dari Khidr yang menurutnya belum ada satupun yang ia dapatkan.

Akhirnya, di akhir perjalanan bersama mereka berdua, Khidr baru menjelaskan berbagai hikmah dari apa yang ia lakukan selama berjalan bersama Musa. Untuk tindakannya menghancurkan perahu yang mereka tumpangi, karena perahu itu milik seorang yang sangat miskin, dan saat itu akan lewat seorang raja yang suka merampas harta rakyatnya. Dengan kemampuan berfikir jauh ke depan yang dikaruniai Allah, menurutnya lebih membawa maslahat melubangi kapal tersebut daripada membiarkan kapal nantinya dirampas sang raja.

Tindakannya membunuh anak muda yang mereka temui, juga karena Khidr telah melihat tanda-tanda kedurhakaan si anak sejak dini. Secara lebih luas lagi, kalau ia dibiarkan hidup, akan menimbulkan dampak positif terhadap orang di sekitarnya, terutama orang tua.

Dan tindakan terakhirnya menegakkan rumah yang hampir roboh, karena ia tahu di dalamnya terdapat harta simpanan milik kakak beradik yang tinggal di rumah tersebut. Seandainya ia menyuruh masyarakat setempat yang masih menyembah berhala untuk merobohkannya, maka akan terbongkarlah harta simpanan tersebut. Sedangkan, kedua kakak beradik itu masih belum cukup umur  untuk mengelola harta simpanan dalam rumahnya.

Nah, jelas banyak banget, kan, pelajaran yang Allah kisahkan secara gamblang dalam surat Al-Kahfi? Menurut saya wajar sih berulang kali Musa memprotes tingkah laku "aneh" gurunya, karena memang ia tidak dikaruniai ilmu seperti Khidr. Mampu berfikir jauh ke depan.

Begitu juga dengan kita (saya sih tepatnya), seringnya tidak menyukai proses belajar yang memakan waktu banyak. Yang instan-instan saja, fikir kita. Padahal, balasan untuk orang yang menuntut ilmu sudah ditulis jelas dalam Al-Quran: yarfa'iLlaahul ladziina aamanuu minkum wal ladziina uutul 'ilma darajaat. Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Whew!

Dari rentetan ayat ini, sejak awal Allah juga sudah mewanti-wanti agar tidak cepat sombong dengan ilmu yang kita miliki. Karena di atas langit masih ada langit, di sekeliling kita masih banyak orang yang lebih tinggi ilmunya.

Semangat belajar Musa juga layak kita acungkan jempol. Walaupun telah diutus menjadi seorang nabi, semangat belajarnya terus membara! Perjalanan melelahkan  sampai menemui "pertemuan dua laut", ia lalui demi dapat berguru dengan Khidr. Terakhir, seandainya Musa tidak berfikir secara parsial, menyadari minimnya ilmu yang dimiliki, pasti ia akan memperoleh lebih banyak lagi hikmah dari hamba pilihan Allah itu.


Allahu a'lam.. 

*foto: komunitaspejuangislam.blogspot.com