Rabu, 07 Desember 2011

cranberries [the] - ode to my family [acoustic].MP3 - 4shared.com - online file sharing and storage - download

http://www.4shared.com/audio/HWQF9Fj-/cranberries_the_-_ode_to_my_fa.htm
Rock The Cranberries! :P

Suwit-suwit... Cewek, Godain Kita, Duooonk!

Bukan maksud hati mau ikut Raja Gombal. Beneran, nggak deh. Cuma mau ikut Ratu Gombal! Ixixixix... Sama aja itu mah, yeesss!

Tapi sekali lagi gue mau menegaskan bahwa tulisan ini nggak bermaksud mengajarkan MPman MPwati untuk bergombal gombal riaaa. Masih jaman? *gaya

Tulisan kali ini, tak lain dan tak bukan cuma pembunuh kemacetan malam di terminal blok M. Melihat para wanita di sekeliling yang alahaaay bodinya! Kalau gue laki-laki nggak waras, pengen banget ngegodain dengan judul di atas: Suwit-suwit... Cewek, godain kita, duooonk!

Dan dua hari yang lalu di sini juga (terminal Blok M), waktu mau naik bus Transjakarta ke Kota Toea sama keponakan, obrolan pun terjadi antara gue dan keponakan yang notabene masih kelas 6 SD. Fyi, kalau lagi sama beberapa keponakan, buat menanamkan nilai-nilai, gue lebih suka kasih contoh yang dekat dengan dunia mereka, then didiskusiin baik buruknya.

Misalnya aja waktu di MM 69, waktu ini bis ngetem di Petukangan, ada beberapa anak muda yang lagi nongkrong-nongkrong sambil nyanyi-nyanyi pake gitar. Gue tunjukkin pemandangan itu ke keponakan.

"Liat tuh, Bang... Mau kayak gitu kalau udah gede?"
Doi ngeliat ke arah mereka (kayaknya sih) sambil mikir.
"Masih muda cuma nongkrong sambil ngamen aja kerjaannya. Diremehin orang orang, Bang. Mau?"
Doi senyum-senyum (kayaknya) sambil mikir, "Nggak mau," katanya.
"Nah, kalau nggak mau, belajar yang bener dari sekarang. Kan katanya mau masuk Gontor. Ok?! Orang pinter dihargain banyak orang, Bang."

Itu di MM 69. Di terminal ada lagi obrolan kita berdua. waktu gue liat ada seorang ABG wanita bercelana super duper pendek jalan di depan gue dan keponakan, satu kesempatan untuk nyekokin nilai-nilai, muncul lagi.

"Liat tuh anak cewek di depan. Sopan nggak pakaiannya?"
Doi ngeliat ke arah tuh cewek.
"Liat mata cowok di depannya, ngeliatin apaan? Pahanya kemana-mana diumbar. Sopan nggak?"
Doi keliatannya mikir lagi.
""Mau nggak kalau Dedek Yuta yang digituin sama anak cowok? Dipelototin pahanya?"
"Nggak mau lah! Tau tuh... Celana anak-anak dipake! Mana ada tattoo-nya lagi!"
Woooot? Apaaaa? Ini bocah... Gue aja nggak merhatiin banget banget o_O.
"Masa sih, Bang? Di sebelah mana?" (ini pertanyaan paling bodoh seorang tante kepada keponakannya yang masih SD. Dont try this at home, para tante!)
"Itu di sebelah kanan pahanya. Warna ijo tattoo-nya."
Eeaaa... Bener-bener dah anak cowok mah. Jeli banget sama yang gitu-gituan!

MPmania... Kepikiran nggak, gimana kalau seandainya yang ngomong kayak begitu adalah anak cowok yang sudah baligh dan daya khayalnya sudah membumbung tinggi? Beuuuwh, kalau gue sih serem aja buat ngebayanginnya. Dan amit amit jabang beybeh, bangun bangun makan nasi pake garem, jangan sampe itu kejadian sama gue dan keponakan-keponakan gue. Hiiiyyy!

Kalau nonton berita macam Patroli, Buser, Bang Napi, dllsb yang nayangin berita pemorkasaan pada abg, nggak tau kenapa kuping gue kayak udah kebal. Hati gue lebih lebih. Nggak kasian sama korbannya. Kecuali kalau korbannya nenek-nenek berumur, bocah di bawah umur, n wanita yang udah berusaha menutup rapat tubuhnya. Kalau masih jadi sasaran juga, darah gue bakal mendidih hingga 200 derajat celcius. Mau ngunyeng ngunyeng tuh pelaku, rasanya. Huh... Sungguh ter-la-lu!

Walaupun kadang juga gue masih suka berpihak kepada mereka (laki laki). Gimana nggak, sebagai mahluk yang dari sononya dikaruniai daya khayal tinggi, tiap hari dipertontonkan aurat yang harusnya tertutup secara cuma-cuma, cowok normal mana yang nggak berkhayal macem macem? Mau nikah duit nggak mencukupi!

Buat para MPwati, yuk deh lebih aware sama pakaian kita. Selain fungsinya ngelindungin tubuh dari sengatan matahari yang kian menyengat, pakaian juga punya fungsi sosial, lho... Okeh kita lupakan otaknya laki laki yang *** (sensor), tapi otaknya bocah laki laki, gimana coba? Kasihanilah mereka dengan memberikan pemandangan yang indah indah aja. Biarkan otak mereka tumbuh sebagaimana mestinya dan sesuai umurnya.

Sebagai tante yang baik hati sama keponakan, gue sering banget waswas dengan pakaian abg jaman sekarang. Gue takut keponakan yang masih piyik jadi korban anak laki laki di bawah umur, yang nafsu binatangnya nggak terbndung karena pakaian para perempuan di sekelilingnya. Ujung ujungnya, yang jadi pelampiasan ya yang lebih lemah dari mereka: anak kecil perempuan. Nggak salah kayaknya nanya ke diri sendiri: apakah pakaian gue menjadi biang kriminal di sekitar?

Na'udzubillah...

Emang Islam itu keren banget, yeesss... Ketika peradaban Barat sampai detik ini masih memandang wanita sebagai objek yang cuma dinilai dari fisiknya n dibuang begitu aja ketika fisiknya udah nggak okeh, Islam sejak 14 abad yang lalu udah memuliakan para wanitanya dengan pakaian taqwa. Selain demi para wania itu lebih mudah dikenali, lebih aman dari gangguan laki laki bejad, juga menyelamatkan pandangan laki laki soleh. Para pelaku dan korban pemerkosaan di bawah umur pun nggak akan ada. Masya Allah, banyak banget yang terselamatkan ya karena baju taqwa para wanita. Bukan begetoh? ;-)

The Cranberries - Stars (Unplugged at SWR3).mp3 - 4shared.com - online file sharing and storage - download

http://www.4shared.com/audio/eNoLQ1uz/The_Cranberries_-_Stars__Unplu.htm
whew, ini versi unplugged-nya. mantafff dah! emang suara asli vokalisnya jernih beudh! :)

Selasa, 06 Desember 2011

Buat yang Terus "Dibalap"

Bagi sebagian wanita, kehidupan pasca SMA atau kampus boleh dibilang menjadi ajang balapan termasyhur laiknya MotoGP. Seperti si bau kencur The Doctor waktu kali pertama bertengger di podium teratas ngalahin seniornya sekelas Max Biagi dan Gerry Mc Coy. Beuwh...

Bagi seniornya, kehadiran bocah ajaib itu so pasti membawa petaka. Posisi mereka bakal terancam! Tapi dalam pertandingan manapun, faktor U nggak selamanya menjamin kemenangan. Yang mampu menuju level puncak lebih dulu, pasti doi yang bakal jadi pemenangnya. Meskipun anak ingusan sekalipun.

Sama... Dalam dunia wanita juga begitu. Siapa yang jodohnya dateng duluan, meskipun secara persiapan masih pas-pasan, ya harus menyambut jodohnya. Mau dia umurnya masih 19 tahun atau baru lulus bangku SMA, hajar, bleh! Sebaliknya, mau udah siap kayak apapun, kalau jodohnya beloman dateng, apa mau dikata? Dikata mau apa? Mau apa dikata? Hheee...

Mungkin bedanya sama MotoGP, dalak hal ini yang duluan beloman tentu dialah pemenangnya. Yang duluan, nggak selamanya yang terbaik. Bisa jadi Allah ngasih jalan Si A buat nikah muda biar jadi pelajaran bagi teman-teman di sekelilingnya. Bahwa nikah bukan perkara sudah berapa buku tentang pernikahan yang sudah habis ilahap. Bahwa nikah nggak melulu soal suka cita, tapijuga duka lara. Bahwa nikah bukan perkara dua manusia, tapi juga dua keluarga. Intinya, nikah itu seperti permen yang rasanya manis asam asin. So, nggak perlu ngiri atau apalah namanya sama mereka yang ngebalap. Justru bersyukur karena ada satu lagi objek observasi kecil-kecilan kita buat bekal berkeluarga nanti. Hheee...

Persis kayak yang terjadi sama Markonah beberapa minggu kemarin. Sebagai seorang wanita biasa seperti kita-kita, doi juga ngalamin giimana rasanya dibalap sama teman-teman yang usianya di bawah doi. Padahal kalau dipikir-pikir, doi hampir nggak ada beda dengan mereka. Eh, kecuali satu ding: rupa Markonah yang pas-pasan! (Mudah-mudaan orangnya nggak baca ini, ya Allah...) Maklum, kata salah satu teman Markonah, cowok waras bin soleh jaman sekarang, tetep aja numero uno-nya ya rupa. Noted: ini yang ngomong cowok waras, lho!

Waktu si Markon curhat ke gue, doi bilang, "Gimana ya, Nje, kiri kanan udah pada nikah. Adek kelas udah pada maju satu demi satu. Lah gue? Wajar donk kalo gue juga pengen mempersegerekan?! Secara umur juga udah waktunya!"

O ow, sebagai teman sebayanya, gue mengerti sangad lah gimana perasaan doi. Karena gue juga hampir mengalami hal serupa. Tapi untungnya, sesuatu deh! Sebelum masa itu tiba, Allah mempertemukan gue dengan temen yang sudah berkeluarga dan mewasiatkani ini, "Gue juga melakukan proses lebih dari lima kali dalam kurun waktu tiga tahun. Waktu itu temen kampus udah pada nikah semua. Keluarga juga udah bantu ikhtiar. Tapi mau gimana lagi Kalau belom ada yang jodoh?! Prinsip gue waktu itu cuma satu: gue ga bakalan mempercepat nikah cuma gegara teman-teman sudah banyak yang nikah! Yang penting gue deketin Allah terus biar Doi selalu menyertai masa penantian ini."

Beuwh... Mantagff kan temen gue? Emang bener yak! Sering kita ngelakuin sesuatu diniatinnya demi orang lain. Mau lanjut study ke luar negeri karena yang lain udah pada duluan ke sana. Atau nggak, lulus kuliah harus langsung kerja di kantoran sesuai bidangnya. Dan yang paling parah ya itu tadi: harus cepet-cepet nikah karena kiri kanan depan belakang udah pada nikah. Ckckck... Fatal banget! Bisa-bisa nekad lewat jalur belakang itu!

Nah, mulai sekarang...
Buat Markonah Rangers yang enantiasa "dibalap", mari rapatkan barisan dan senandungkan, "buat apa susah, buat apa susah, susah itu tak ada gunanya...". Isi hari-hari dengan segala sesuatu yang terus meningkatkan kapasitas diri. Sepakat?! ;-)


*maaf ya, Markon... Ssekali lagi maafknlah... InsyAllah identitasmu nggak kan terbongkar :-)
*Tulisan yang kelupaan diposting XD

Kamis, 01 Desember 2011

Belajar Dari Kotaro Minami

Alahaaay, lagi-lagi ini buat generasi 80an yang tumbuh di era 90an... Masih ingat dengan tokoh Kotaro Minami? Ingat, ingat, ingat? Kalau nggak ingat, mari kita bernostalgila bersama ;-).

Di era 90an, seinget gue lumayan banyak pahlawan anak-anak dalam film. Ada Go go Power Rangers, ada juga Jiban Jiban pembela kebenaran, ada juga kini kudatang Saraz pahlawan kebajikan, ada juga ingin kukatakan irama hatiku kabulkan Wedding Peach, ada juga Sailor Moon.

Tapi yang paling gue inget ya si Kotaro Minami ini, yang tiap beraksi menjadi Ksatria Baja Hitam. Bahkan saking ngefans-nya, dulu gue pernah punya dua baju lebaran yang ada sablonan gambar doi bareng si Belalang Tempur, kendaraan setianya.

*Buat generasi 2000, maap maap nih kalau rooming :-P*

Satu kata sakti Kotaro Minami yang paling gue inget sampai sekarang:

Berubaaaah...!

Dan satu kata ini kini tengiang lagi dalam benak gue. Teparnya kemarin ketika ada dua kejadian tentang perubahan di sekeliling gue.

Kejadian pertama saat gue merasakan sendiri gimana proses uji coba hari pertama jalur kereta Jabodetabek. Intinya sih jadi hampir mirip sama Busway: transit-transitan tanpa harus beli tiket (selama masih di jalur dalam).

Mendadak semua orang ingin bersuara. Mulai dari cuma ngedumel sampai marah-marahin petugas KAI. Beloman lagi mendadak terjadi penumpukan penumpang di stasiun Tana Abang. Beloman lagi jadwal kereta yang ngaret banget n kelamaan berhenti di beberapa stasiun. Riweh sangad, euy!

Actually gue juga sempat ikutan "bicara" sih... Secara perjalanan gue jadi nambah setengah jam dari biasanya, gitu loch! Tapi "bicara" gue nggak separah yang lain, kok... Cuma ngedumel dalam hati n dibawa-bawa sampai ke dunia maya :-P. Tapi eh api, pas ada kesempatan ngobrol ringan sama dua petugasnya di stasiun Mangarai... Eyalah, ternyata kebijakan perubahan rute ini nggak selamanya nggak bagus, kok! Bahkan lumayan menguntungkan bagi gue. Selain jadi lebih murah sedikit, nggak perlu lagi tuh lari-lari ke lantai dua stasiun Tana Abang demi beli karcis lagi ke Manggarai. Hheee...

Tapi gue heran, sampai pagi ini kok masih ada aja penumpang yang ngedumelin sistem baru ini. Kalau gue sih, namanya juga masih uji coba. Wajar aja kalau masih banyak "nggak beres"nya.

Jadi, pelajaran apa yang kita dapat dari pengalaman pertama gue? Yep, berubaaaah!

Yang kedua juga terjadinya kemarin. Ketika gue ke kantor dengan model jilbab yang lagi tren sekarang sekarang. Itu loch, yang daleman arab-nya keliatan sampe jidad, jarum pentulnya ditarik sampai ke samping pipi (biasanya kan di bawah dagu). Ada yang bilang, "kalau gue sih jadi diri sendiri aja. Pake jilbab sebagaimana mestinya para akhwat". Ada juga yang bilang, "duilleee... Sekarang jadi anak Hijabers, nih ye, Nj...."

Terus gue mikir... Lah, emangnya kalau make jilbab kayak gini tuh nggak jadi diri sendiri, apa ya? Bukan akhwat, gituh? Then, kenapa juga kalau ngikutin gayanya anak Hijabers? Dosa apa, yeesss?

Bukannya yang penting masih menjulur sampai menutup yang harus ditutup, longgar hingga nggak membentuk lekuk tubuh, masih pake jilbab dalaman walaupun luarnya pake jilbab "saringan tahu", dan nggak mencolok, yeesss?

Kalau menurut gue sih... Noted: MENURUT GUE. Nggak masalah deh make jilbab sambil ngikutin mode yang sesuai dengan jaman kita tinggal di dalamnya. Yang penting bener niat dan sesuai syariat, right? Pake jilbab ya karena emang nurut perintah Allah, bukan karena lagi in atau ikut ikut orang sekitar. So, kalau niatnya benar, insyAllah ngikut syariat deh!

Lagian, kalau seandainya model jilbab kita sesuai dengan jamannya, mudah-mudahan bisa memperkecil jarak antara mereka yang disebut sebgai Jilbabers (jilbab gondrong) dan mereka yang menamakan diri sebagai Hijabers (jilbaban tapi tetap modis). Iya nggak sih? Hheee, cuma pendapat gue aja sih...

Jadi, pelajaran apa yang bisa kita ambil dari cerita kedua ini? Yep, lagi-lagi tentang Berubaaaah!

Emang berat yeesss buat melakukan satu perubahan (ke arah yang lebih baik). Secara perubahan identik dengan mendobrak rutinitas dan kebiasaan. Apalagi mengubah satu hal yang udah mendarah daging. Beuuuwh, butuh usaha ekstra! Gue juga masih sering berat menerima atau melakukan satu perubahan. Terutama waktu pertama kali banget memutuskan untuk berubah. Ibarat dijodohin sama orang yang nggak kita kenal asal usulnya. Hheee, emang pernah ngerasain? Yah, gitu deh intinya.

Eniwey, dari tadi gue ngemeng aja dah. Terus, apa nyambungnya sama Kotaro Minami?

Ya jelas aja ada, Mameeen! Nih ya, Kotaro Minami itu kan selalu siap siaga berubah menjadi Ksatria Baja Hitam kala doi dibutuhkan. Kala penduuk bumi diusik oleh mahluk jahat. Ya kan, kan?

Nah, harusnya kita bisa mencontoh kesiapan doi untuk beubah kapanpun dan di manapun. Eit, bukan berubah jadi Ksatria Baja Hitam dan semacamnya, yeesss... Tapi berubah ke arah yang lebih baik! *ini ngingetin diri sendiri sebenarnya.

Emang agak aneh sih analoginya. Ya, paling enggak kita bernostalgila lagi lah ke masa kanak kanak di era 90an, yang kualitas film maupun lagunya lumayan mendidik ketimbang era 2000an. Mana film anak-anaknya banyak yang kurang menddik, lagu anak-anaknya pun udah langka. Hidup era 90an! :-D

*foto: Google