Sabtu, 05 November 2011
Kamis, 03 November 2011
Memilih Jurusan Sesulit Memilih Pasangan
Ajegileee... Geje banget si Enje, malem-malem ngegalau tentang memilih pasangan! Ckckk.. Emang pernah? Mana nyanding-nyandingin sama memilih jurusan pula... Emang ada kaitannya apa ya? Jaka Sembung bawa gitar... Nggak nyambung, jreeeng! XD
Buat yang udah gatel mau menghinakan ke-geje-an gue, gue terima dengan lapang jidat... Tapi buat yang pernah ngalamin betapa nggak enaknya salah milih jurusan, mari-mari, mari kia rapatkan barisan. Bukan untuk meratapi kebodohan diri, bukan... Justru untuk meluruskan apa iya hidup kita jadi sengsara cuma gara-gara salah milih jurusan? Ow... Of kors not!
Ok, balik maneng ke judul...
Actually itu bukan perkataan gue. Cuma perkataan guru bimbelnya adek kelas yang menurut gue amat sangat super depay lebay! Much more banget! Masa sih sampe segitunya? Gue aja yang udah berpengalaman dalam hal salah milih jurusan, fine fine aja dah. Happy malah!
Kok bisa? Ya bisa-bisa ajah...
Jujur sejak milih bangku SMP sampe milih bangku universitas, gue masuk dalam mazhab manut-manut. Maksud, kalau kakak bilang di sini oke, gue ikut dan percaya aja. Toh mereka nggak bakalan memilih yang nggak oke buat adiknya, fikir gue dulu.
Tapi ternyata gue salah. Jalan hidup gue bukan di sini kayaknya. Dua tahun pertama di fkm ui bener-bener berasa lama banget. Beberapa pelajaran eksak ece-ece yang diulang terus dari SMP, nilainya nggak karuan. Kimia yang di SMA gue pernah jadi jawara, nggak bisa dibanggain lagi. Biologi yang dulu gue lumayan enjoy, mendadak ngejelimet. Apalagi fisika yang dari dulu nilai gue suram... Makin suram! Tidaaak, gue salah milih jurusan!
Untung gue ikut-ikutan Rohis, lomba-lomba di tingkat fakultas sampe nasional (pamer!) dan beberapa kali ikut siaran temen di radio UI. Empat tahun jadi lebih berwarna-warni. Mujarab sangat membuat ge lupa akan rangkaian rantai karbon nilai-nilai pelajaran yang berbau IPA. Hhee, disorientasi banget, yeesss...
Akhirnya ketika masa memilih jurusan tiba, gue bertekad nggak mau ngulang kesalahan yang sudah beranak pinak ini. I hate IPA. Cukup sampai di sini deh berIPa-IPA ria. Gue putuskan untuk mengambil jurusan yang minim mata kuliah IPA dan bertabur mata kuliah IPS. Untuk menghormati para dosen yang telah berjasa hingga gue menjadi seperti sekarang ini (emang udah jadi apa sih gue?), gue samarkan deh nama jurusannya. Bukan apa-apa, karena kala dibuat survey... Mungkin cuma 1/2 dari 10 oran yang tau atau minimal pernah denger nama jurusan gue. Mereka cuma tau gizi, k3, kesling, mrs, dll. Jurusan gue? "belom pernah denger, tuh! Emang ada ya?". Sedih!
Eiya, bukan cuma orang-orang yang gue temui yang bilang katak begitu. Kakak gue pun sama bingungnya dengan jurusan itu dan menyayangkan pilihan gue. Untungnya, setelah lobi beberapa hari doi pasrah. Terserah deh gue di jurusan apa juga, yang penting lulus jadi PNS. Eeaaa... Ini sih pinsipna kartu seluler jaman sekarang: sarat dan ketentuan berlaku!
Dua tahun belajar di jurusan yang nggak boleh disebut namanya ini, lumayan bikin otak seger. Nggak ada tuh yang namanya "udah ketentuan dari sononya", yang ada kita diskusi dan santai-santai. Hhee. Belajar komunikasi, sosiologi, psikologi, antropologi dan ilmu-ilmu lain yang berhubungan dengan tingkah laku manusia emang enak banget yeesss... Walaupun dikait-kaitin juga sama dunia kesehatan. *yaeyalaaa... Namanya aja FKM: Fakultas Kesehatan Masyarakat. Bukan Fakultas Komunikasi Massa. Hhee.
Empat tahun gue tutup dengan husnul khotimah, alhamdulillah. Hanya saja, kakak gue masih inget dengan janji gue untuk jadi PNS. Mau nggak mau, dengan setengah hati gue ikut-ikutan hanyut dalam euphoria tes CPNS. Ada kali tiga tes gue ikutin, alhamdulillah lagi nggak ada satupun yang lolos. Aheeyyy! *maafkan adikmu yan satu ini, Kakak...*
Iseng-iseng gue mencoba menjalin cita-cita yang sempa terkubur dalam-dalam: jadi reporter teve atau penyiar radio. Gue jajal ngelamar di sebuah majalah sambil terus istikhoroh dan berdoa: ya Allah, mudh-mudan ini adalah jalan yang terbaik buat hamba dan orang-orang sekitar. Kalau Kau ridho, permudahkan jalannya, ya Allah. Kalau Kau nggak ridho, pilihkan jalan lain, tapi masih jadi reporter juga ya, ya Allah. *doa yang maksa*
Dan tarraaa... Gue dipanggil! Apakah ini berarti Allah ridho? Insya Allah yang terbaik lah yeess, karena Kan ritual minta ridho-Nya lumayan kenceng.
Sampe sekarang alhamdulillah enjoy-enjoy aja. Kecuali satu: gelar "karyawan" yang masih nempel nggak mau pergi. Sebagai manusia biasa yang doyan berkeluh kesah, kadang nggak mensyukuri juga sih. Tapi gue punya jurus ampuh biar makin bersyukur.
Gelar Jurnalis yang melekat pasti dalam diri sepertinya membanggakan juga. Apalagi punya kartu sakti mandraguna: kartu pers, yang memungkinkan gue buat memasuki hotel-hotel berbintang dan tempat-tempat high class lain yang nggak semua orang bisa ke sana. Bisa icip-icip kuliner dari luar juga tanpa perlu pusing-pusing mikirin gimana bayarnya. Bisa refreshing seing-sering kalau lagi pusing. Bisa ketemu, ngobrol, dan foto-foto mereka sampe eneg. Dan lain-lain enaknya jadi jurnalis.
Tapi kok dari tadi curcolin perjalanan pendidikan dan kerjaan gue terus, yeesss? Mana curcolan tentang memilih pasangan-nya? Apa yang mau dihubungin n dibandingin, coba?
Hhee, jelas aja ada hubungannya, dooonk!
Gue mau menyangkal statement super duper lebay: Memilih Jurusan Sesulit Memilih Pasangan". Gue udah buktiin tuh, biar kata salah milih tempat belajar, gue happy-happy aja di dunia kerja! Apanya yang sesulit milih pasangan?
Jelas-jelas keduanya beda jalur. Beda mazhab. Beda aliran. Beda dunia! Yang satu jelas rumitnya, karena buat seumur hidup. Salah milih bisa bernasib tragis seperti hampir 80% artis Indonesia, yang doyannya kawin cerai. Makanya kudu bener-bener biar nggak salah pilih. Lidiniha dulu baru yang lain (Limaliha, Lijamaliha, Linasabiha *bener nggak tuh bahasa Zimbabwenya?). Kalau Lidiniha-nya nol besar, tanggung sendiri akibatnya!
Nah kalau yang satu lagi, rumit bin sulit juga sih... Tapi masih lebih lentur. Kalau terlanjur salah milih jurusan, kan bisa banting setir milih kerjaan yang kita senangi. Bukan beg beg begetoh?
Ya nggak gitu, dooonk... Masa kuliah mahal-mahal, kerjanya nggak nyambung dengan yang dipelajarin di kampus? Meding nggak usah kuliah aja sekalian kalau gitu. Kursus lebih murah!
Itu dia masalahnya. Banyak dari kita yang masih menjadikan pendidikan sebagai batu sandungan ketimbang batu loncatan. Bukan kata gue nih, lagi-lagi kata orang, dan orangnya adalah milyuner wanita Indonesia: Merry Riana.
Maksud, kalo kuliah di jurusan X, kerja juga kudu di ladang X. Dalihnya, udah ngelotok ilmunya, empat tahun belajar di kampus. Walaupun setengah hati juga jalaninnya.
Beda kalau orang yang menjadikan pendidikan sebagai batu loncatan. Kuliah di kampus Y, kerja di mana aja, yang penting sesuai passion! Nggak peduli meski kudu baning setir.
Lagian, nyari kerja sekarang kan susah buanget! Mending kalau jurusan yang kita ambil sesuai dengan passion kita, lah kalau kasusnya kayak gue (disetir keluarga) atau baru nyadar di tengah jalan kala ternyata jurusan yang diambil bukan kita banget, atau jurusan yang kita ambil banyak peminatnya hingga peluang bekerjanya sedikit, giimana dooonk?
Mau tetap ngoyo kerja sesuai jurusan yang kita ambil? Wah, itu si nambah susah hidup yan udah makin susah! Mempersempit celah rejeki juga!
Gue yakin banget dah sampe sekarang, kalau passion itu di atas seglanya. Mau gaji guede banget tapi nggak sesuai passion, cuma jadi robot! Nggak kan langgeng biasanya (itu sih gue, yeess). Sbaliknya, gaji pas-pasan tapi sesuai passion, hidup terasa bergelora. Hhee, apa dah?! Ya intinya, paling enak melakukan hal yang kita senangi dan dibayar pula.
Kalau sesuai passion, mau kuliah di jurusan A, kerja meleset jauh di jurusan Z. No problemo sangato, deeeh! Right?
Eniwey, dari tadi gue koar-koar tentang passion terus, yeesss... Apa sih artinya?
Gue jawab: Silakan cari di kamus bahasa Zimbabwe! XD
Buat yang udah gatel mau menghinakan ke-geje-an gue, gue terima dengan lapang jidat... Tapi buat yang pernah ngalamin betapa nggak enaknya salah milih jurusan, mari-mari, mari kia rapatkan barisan. Bukan untuk meratapi kebodohan diri, bukan... Justru untuk meluruskan apa iya hidup kita jadi sengsara cuma gara-gara salah milih jurusan? Ow... Of kors not!
Ok, balik maneng ke judul...
Actually itu bukan perkataan gue. Cuma perkataan guru bimbelnya adek kelas yang menurut gue amat sangat super depay lebay! Much more banget! Masa sih sampe segitunya? Gue aja yang udah berpengalaman dalam hal salah milih jurusan, fine fine aja dah. Happy malah!
Kok bisa? Ya bisa-bisa ajah...
Jujur sejak milih bangku SMP sampe milih bangku universitas, gue masuk dalam mazhab manut-manut. Maksud, kalau kakak bilang di sini oke, gue ikut dan percaya aja. Toh mereka nggak bakalan memilih yang nggak oke buat adiknya, fikir gue dulu.
Tapi ternyata gue salah. Jalan hidup gue bukan di sini kayaknya. Dua tahun pertama di fkm ui bener-bener berasa lama banget. Beberapa pelajaran eksak ece-ece yang diulang terus dari SMP, nilainya nggak karuan. Kimia yang di SMA gue pernah jadi jawara, nggak bisa dibanggain lagi. Biologi yang dulu gue lumayan enjoy, mendadak ngejelimet. Apalagi fisika yang dari dulu nilai gue suram... Makin suram! Tidaaak, gue salah milih jurusan!
Untung gue ikut-ikutan Rohis, lomba-lomba di tingkat fakultas sampe nasional (pamer!) dan beberapa kali ikut siaran temen di radio UI. Empat tahun jadi lebih berwarna-warni. Mujarab sangat membuat ge lupa akan rangkaian rantai karbon nilai-nilai pelajaran yang berbau IPA. Hhee, disorientasi banget, yeesss...
Akhirnya ketika masa memilih jurusan tiba, gue bertekad nggak mau ngulang kesalahan yang sudah beranak pinak ini. I hate IPA. Cukup sampai di sini deh berIPa-IPA ria. Gue putuskan untuk mengambil jurusan yang minim mata kuliah IPA dan bertabur mata kuliah IPS. Untuk menghormati para dosen yang telah berjasa hingga gue menjadi seperti sekarang ini (emang udah jadi apa sih gue?), gue samarkan deh nama jurusannya. Bukan apa-apa, karena kala dibuat survey... Mungkin cuma 1/2 dari 10 oran yang tau atau minimal pernah denger nama jurusan gue. Mereka cuma tau gizi, k3, kesling, mrs, dll. Jurusan gue? "belom pernah denger, tuh! Emang ada ya?". Sedih!
Eiya, bukan cuma orang-orang yang gue temui yang bilang katak begitu. Kakak gue pun sama bingungnya dengan jurusan itu dan menyayangkan pilihan gue. Untungnya, setelah lobi beberapa hari doi pasrah. Terserah deh gue di jurusan apa juga, yang penting lulus jadi PNS. Eeaaa... Ini sih pinsipna kartu seluler jaman sekarang: sarat dan ketentuan berlaku!
Dua tahun belajar di jurusan yang nggak boleh disebut namanya ini, lumayan bikin otak seger. Nggak ada tuh yang namanya "udah ketentuan dari sononya", yang ada kita diskusi dan santai-santai. Hhee. Belajar komunikasi, sosiologi, psikologi, antropologi dan ilmu-ilmu lain yang berhubungan dengan tingkah laku manusia emang enak banget yeesss... Walaupun dikait-kaitin juga sama dunia kesehatan. *yaeyalaaa... Namanya aja FKM: Fakultas Kesehatan Masyarakat. Bukan Fakultas Komunikasi Massa. Hhee.
Empat tahun gue tutup dengan husnul khotimah, alhamdulillah. Hanya saja, kakak gue masih inget dengan janji gue untuk jadi PNS. Mau nggak mau, dengan setengah hati gue ikut-ikutan hanyut dalam euphoria tes CPNS. Ada kali tiga tes gue ikutin, alhamdulillah lagi nggak ada satupun yang lolos. Aheeyyy! *maafkan adikmu yan satu ini, Kakak...*
Iseng-iseng gue mencoba menjalin cita-cita yang sempa terkubur dalam-dalam: jadi reporter teve atau penyiar radio. Gue jajal ngelamar di sebuah majalah sambil terus istikhoroh dan berdoa: ya Allah, mudh-mudan ini adalah jalan yang terbaik buat hamba dan orang-orang sekitar. Kalau Kau ridho, permudahkan jalannya, ya Allah. Kalau Kau nggak ridho, pilihkan jalan lain, tapi masih jadi reporter juga ya, ya Allah. *doa yang maksa*
Dan tarraaa... Gue dipanggil! Apakah ini berarti Allah ridho? Insya Allah yang terbaik lah yeess, karena Kan ritual minta ridho-Nya lumayan kenceng.
Sampe sekarang alhamdulillah enjoy-enjoy aja. Kecuali satu: gelar "karyawan" yang masih nempel nggak mau pergi. Sebagai manusia biasa yang doyan berkeluh kesah, kadang nggak mensyukuri juga sih. Tapi gue punya jurus ampuh biar makin bersyukur.
Gelar Jurnalis yang melekat pasti dalam diri sepertinya membanggakan juga. Apalagi punya kartu sakti mandraguna: kartu pers, yang memungkinkan gue buat memasuki hotel-hotel berbintang dan tempat-tempat high class lain yang nggak semua orang bisa ke sana. Bisa icip-icip kuliner dari luar juga tanpa perlu pusing-pusing mikirin gimana bayarnya. Bisa refreshing seing-sering kalau lagi pusing. Bisa ketemu, ngobrol, dan foto-foto mereka sampe eneg. Dan lain-lain enaknya jadi jurnalis.
Tapi kok dari tadi curcolin perjalanan pendidikan dan kerjaan gue terus, yeesss? Mana curcolan tentang memilih pasangan-nya? Apa yang mau dihubungin n dibandingin, coba?
Hhee, jelas aja ada hubungannya, dooonk!
Gue mau menyangkal statement super duper lebay: Memilih Jurusan Sesulit Memilih Pasangan". Gue udah buktiin tuh, biar kata salah milih tempat belajar, gue happy-happy aja di dunia kerja! Apanya yang sesulit milih pasangan?
Jelas-jelas keduanya beda jalur. Beda mazhab. Beda aliran. Beda dunia! Yang satu jelas rumitnya, karena buat seumur hidup. Salah milih bisa bernasib tragis seperti hampir 80% artis Indonesia, yang doyannya kawin cerai. Makanya kudu bener-bener biar nggak salah pilih. Lidiniha dulu baru yang lain (Limaliha, Lijamaliha, Linasabiha *bener nggak tuh bahasa Zimbabwenya?). Kalau Lidiniha-nya nol besar, tanggung sendiri akibatnya!
Nah kalau yang satu lagi, rumit bin sulit juga sih... Tapi masih lebih lentur. Kalau terlanjur salah milih jurusan, kan bisa banting setir milih kerjaan yang kita senangi. Bukan beg beg begetoh?
Ya nggak gitu, dooonk... Masa kuliah mahal-mahal, kerjanya nggak nyambung dengan yang dipelajarin di kampus? Meding nggak usah kuliah aja sekalian kalau gitu. Kursus lebih murah!
Itu dia masalahnya. Banyak dari kita yang masih menjadikan pendidikan sebagai batu sandungan ketimbang batu loncatan. Bukan kata gue nih, lagi-lagi kata orang, dan orangnya adalah milyuner wanita Indonesia: Merry Riana.
Maksud, kalo kuliah di jurusan X, kerja juga kudu di ladang X. Dalihnya, udah ngelotok ilmunya, empat tahun belajar di kampus. Walaupun setengah hati juga jalaninnya.
Beda kalau orang yang menjadikan pendidikan sebagai batu loncatan. Kuliah di kampus Y, kerja di mana aja, yang penting sesuai passion! Nggak peduli meski kudu baning setir.
Lagian, nyari kerja sekarang kan susah buanget! Mending kalau jurusan yang kita ambil sesuai dengan passion kita, lah kalau kasusnya kayak gue (disetir keluarga) atau baru nyadar di tengah jalan kala ternyata jurusan yang diambil bukan kita banget, atau jurusan yang kita ambil banyak peminatnya hingga peluang bekerjanya sedikit, giimana dooonk?
Mau tetap ngoyo kerja sesuai jurusan yang kita ambil? Wah, itu si nambah susah hidup yan udah makin susah! Mempersempit celah rejeki juga!
Gue yakin banget dah sampe sekarang, kalau passion itu di atas seglanya. Mau gaji guede banget tapi nggak sesuai passion, cuma jadi robot! Nggak kan langgeng biasanya (itu sih gue, yeess). Sbaliknya, gaji pas-pasan tapi sesuai passion, hidup terasa bergelora. Hhee, apa dah?! Ya intinya, paling enak melakukan hal yang kita senangi dan dibayar pula.
Kalau sesuai passion, mau kuliah di jurusan A, kerja meleset jauh di jurusan Z. No problemo sangato, deeeh! Right?
Eniwey, dari tadi gue koar-koar tentang passion terus, yeesss... Apa sih artinya?
Gue jawab: Silakan cari di kamus bahasa Zimbabwe! XD
Rabu, 02 November 2011
Hiyaiiiiks, Gue Dikejar Artis!
Percaya nggak percaya, suka nggak suka, yang nggak percaya dan nggak suka jangan baca, but thats the fact. Gue yang baru beberapa tahun lagi akan mencapai kesuksesannya (yang ngaminin, gue doain balik biar enteng rejeki dan jodoh), dikejar-kejar oleh salah satu artis KCB (KaEnje Caem Buanget). Hheee, film besutan siapa tuh? Yang jelas bukan Tenung Baramantyo!
Oiya... Kalau boleh milih, act maunya sih dikejar-kejar Khairul Azzam Markojim, tapi apa mau dikata dikata mau apa kalau Allah belum mengijinkan? Yaudang, mungkin someday nggak tahu kapan kali yeesss...
Bersyukur aja deh seorang gue yang (sekali lagi gue tekankan) beberapa tahun lagi akan mencapai kesuksesannya, dikejar lawan mainnya Markojim: Markonah yang cantik jelita (bukan nama sebenarnya). Karena belom tentu orang lain bisa seberuntung gue pernah dikejar artis. Apalagi artis sesolehah Markonah. Right?
*Prok prok prok... Enje makin dewasa, nggak sih? Kata-katanya itu lho, very very something! Hhee!*
Beneran Nggak ada maksud berbangga hati atau pamer atau apalah menceritakan kejadian kemarin maghrib. Hanya ingin dipuji! *apa bedanya coba?!* Nggak lah, gue agak kurang suka pujian, actually. Sukanya sate padang berpiing-piring!
Orek... Melalui tulisan ini, justru gue ingin mengungkapkan betapa jernihnya hati si Markon. Nggak kurang nggak lebih.
Semua bermula setelah gue meminta ijin doi buat diwawancarain (biar gini-gini, gue jurnalis lho! Dari majalah ada deeeh *tebak-tebak buah gohok!). Ketika doi udah oke, kita pun berjalan menuju tempat wawancara yang udah disepakatin bareng. Doi jalan d depan, gue jalan di belakang bersama para fansnya yang bejubel pengen berfoto ria bareng doi.
Awalnya gue fikir everyhings gonna be OK lah. Akan lebih baiikan dan nggak serusuh ketika berlomba dengan kawan seprofesi gue saat mewawancarain artis. But oh but... Tettooot, i was wrong! Nyatanya, para fans Markonah lebih barbar dari teman-teman seprofesi yang pernah gue temui. Really-really tired, deeeh!
Can u imagine... ? Gue yang tadinya berjalan tepat di belakang si Markon, perlahan tergeser ke belakang. Para fans dari arah kanan sukses mencegat kami-kami yang sudah mengikuti Markon dari depan panggung.
Hingga puncaknya terjadi ketika sampai di pintu yang jalannya mulai mengecil, mereka yang di belakang mendorong-dorong paksa gue dan orang-orang di depan gue demi mengejar satu titik di barisan paling depan: Markonah sang pujaan!
Hampir aja gue putus asa dan memutuskan keluar dari barisan. Gue fikir, bisa aja Markonah lupa akan janjinya saking betenya dikejar-kejar fans yang bak Bonek di Surabaya dan Hooligan di Inggris. Ndesooo!
Dan owowow... Ternyata gue salah lagi! Diantara lautan jilbab warna/i di depan gue, dengan jelas gue liat si Markon membalikkan badan. Menyisir satu persatu kepala di depannya seperti mencari seseorang.
Ahhaaa... Pasti, pasti doi nyari-nyari gue! Langsung aja gue panggil-panggil namanya sambil melambai-lambai ke arahnya: Markon, Markoon, Markooon... Gue di sini!
Yeesss... Doi ngeliat gue! Tangannya menunjuk-nunjuk ke arah lobi untuk memulai wawancara. Aheeyy, kumpulan manusia di depan belakang kiri kanan seperti lenyap seketika. Gue bakal mewawancarainya! Ya olooooh, mimpi apa emak gue semalem? Sesuatu!
Tapi MPman MPwati, senang yang berlebihan emang nggak baik yeesss... Allah bisa aja dengan mudah membalikkan rasa senang yang kita rasakan menjadi hal-hal yang ngak kita sukai, saat itu juga. Begitu juga dengan kesedihan yang berlebihan. Sama nggak baiknya deh.
Gue pun harus membayar mahal atas kesenengan berlebihan yang walau cuma beberapa detik tadi. Poses wawancara nggak semulus yang gue bayangin, lagi-lagi gegara ulah Para Markonah Lovers. Selama beberapa menit gue ngerasain kalau diri gue dan Markonah bak pinang dibelah kampak. Sama-sama berusaha menenangkan para fans-nya demi memulai wawancara. "Sebentar ya Kakak, kita mau wawancara nih, Kakak... Tenang sedikiit yaaa, Kakaaak..."
Lagi dan lagi dan lagi, mereka sulit diatur. Mngerubungi gue dan Markonah yang hanya berjarak lima puluh meteran. Mengacuhkan tugas dan profesi gue sebagai seorang Jurnalis! Semena-mena ey ey! BerUntung Markonah tetap okeh di depan handycam. Keren, kayak nggak ada kejadian apa-apa di sekeliling doi. Tenang tralala gituh...
Tapi dari kejadian gila itu gue banyak bekaca dan bertanya pada diri sendiri. Pernah nggak ya gue mengagumi seseorang sampe segitunya? Jujur... Pernah si sekali, waktu itu gue minta foto bareng Mas Ippho bada seminarnya. Tapi itu juga pas doi lagi berdiri sendiri di samping panggung, nggak norak deh caranya.
MPman MPwati juga gue yakin nggak ada yang segila mereka pastinya yeesss. Selain ngerugiin si artis, pasti ada pihak lain yang merasa dirugikan dari tingkah yang seperti itu deh. Ngak usah jauh-jauh cari siapa, karena gue salah satu korbannya. Hixxx, kasihanilah temanmu ini... o_O
Oiya... Kalau boleh milih, act maunya sih dikejar-kejar Khairul Azzam Markojim, tapi apa mau dikata dikata mau apa kalau Allah belum mengijinkan? Yaudang, mungkin someday nggak tahu kapan kali yeesss...
Bersyukur aja deh seorang gue yang (sekali lagi gue tekankan) beberapa tahun lagi akan mencapai kesuksesannya, dikejar lawan mainnya Markojim: Markonah yang cantik jelita (bukan nama sebenarnya). Karena belom tentu orang lain bisa seberuntung gue pernah dikejar artis. Apalagi artis sesolehah Markonah. Right?
*Prok prok prok... Enje makin dewasa, nggak sih? Kata-katanya itu lho, very very something! Hhee!*
Beneran Nggak ada maksud berbangga hati atau pamer atau apalah menceritakan kejadian kemarin maghrib. Hanya ingin dipuji! *apa bedanya coba?!* Nggak lah, gue agak kurang suka pujian, actually. Sukanya sate padang berpiing-piring!
Orek... Melalui tulisan ini, justru gue ingin mengungkapkan betapa jernihnya hati si Markon. Nggak kurang nggak lebih.
Semua bermula setelah gue meminta ijin doi buat diwawancarain (biar gini-gini, gue jurnalis lho! Dari majalah ada deeeh *tebak-tebak buah gohok!). Ketika doi udah oke, kita pun berjalan menuju tempat wawancara yang udah disepakatin bareng. Doi jalan d depan, gue jalan di belakang bersama para fansnya yang bejubel pengen berfoto ria bareng doi.
Awalnya gue fikir everyhings gonna be OK lah. Akan lebih baiikan dan nggak serusuh ketika berlomba dengan kawan seprofesi gue saat mewawancarain artis. But oh but... Tettooot, i was wrong! Nyatanya, para fans Markonah lebih barbar dari teman-teman seprofesi yang pernah gue temui. Really-really tired, deeeh!
Can u imagine... ? Gue yang tadinya berjalan tepat di belakang si Markon, perlahan tergeser ke belakang. Para fans dari arah kanan sukses mencegat kami-kami yang sudah mengikuti Markon dari depan panggung.
Hingga puncaknya terjadi ketika sampai di pintu yang jalannya mulai mengecil, mereka yang di belakang mendorong-dorong paksa gue dan orang-orang di depan gue demi mengejar satu titik di barisan paling depan: Markonah sang pujaan!
Hampir aja gue putus asa dan memutuskan keluar dari barisan. Gue fikir, bisa aja Markonah lupa akan janjinya saking betenya dikejar-kejar fans yang bak Bonek di Surabaya dan Hooligan di Inggris. Ndesooo!
Dan owowow... Ternyata gue salah lagi! Diantara lautan jilbab warna/i di depan gue, dengan jelas gue liat si Markon membalikkan badan. Menyisir satu persatu kepala di depannya seperti mencari seseorang.
Ahhaaa... Pasti, pasti doi nyari-nyari gue! Langsung aja gue panggil-panggil namanya sambil melambai-lambai ke arahnya: Markon, Markoon, Markooon... Gue di sini!
Yeesss... Doi ngeliat gue! Tangannya menunjuk-nunjuk ke arah lobi untuk memulai wawancara. Aheeyy, kumpulan manusia di depan belakang kiri kanan seperti lenyap seketika. Gue bakal mewawancarainya! Ya olooooh, mimpi apa emak gue semalem? Sesuatu!
Tapi MPman MPwati, senang yang berlebihan emang nggak baik yeesss... Allah bisa aja dengan mudah membalikkan rasa senang yang kita rasakan menjadi hal-hal yang ngak kita sukai, saat itu juga. Begitu juga dengan kesedihan yang berlebihan. Sama nggak baiknya deh.
Gue pun harus membayar mahal atas kesenengan berlebihan yang walau cuma beberapa detik tadi. Poses wawancara nggak semulus yang gue bayangin, lagi-lagi gegara ulah Para Markonah Lovers. Selama beberapa menit gue ngerasain kalau diri gue dan Markonah bak pinang dibelah kampak. Sama-sama berusaha menenangkan para fans-nya demi memulai wawancara. "Sebentar ya Kakak, kita mau wawancara nih, Kakak... Tenang sedikiit yaaa, Kakaaak..."
Lagi dan lagi dan lagi, mereka sulit diatur. Mngerubungi gue dan Markonah yang hanya berjarak lima puluh meteran. Mengacuhkan tugas dan profesi gue sebagai seorang Jurnalis! Semena-mena ey ey! BerUntung Markonah tetap okeh di depan handycam. Keren, kayak nggak ada kejadian apa-apa di sekeliling doi. Tenang tralala gituh...
Tapi dari kejadian gila itu gue banyak bekaca dan bertanya pada diri sendiri. Pernah nggak ya gue mengagumi seseorang sampe segitunya? Jujur... Pernah si sekali, waktu itu gue minta foto bareng Mas Ippho bada seminarnya. Tapi itu juga pas doi lagi berdiri sendiri di samping panggung, nggak norak deh caranya.
MPman MPwati juga gue yakin nggak ada yang segila mereka pastinya yeesss. Selain ngerugiin si artis, pasti ada pihak lain yang merasa dirugikan dari tingkah yang seperti itu deh. Ngak usah jauh-jauh cari siapa, karena gue salah satu korbannya. Hixxx, kasihanilah temanmu ini... o_O
Tips Pintar Menulis Ala Oki Setiana Dewi
http://www.annida-online.com/artikel-4316-Tips%20Pintar%20Menulis%20Ala%20Oki%20Setiana%20Dewi.html
wawancara antara kakak kelas dengan kakak kelas :)
buat yang lagi lesu nulis, mudah2an bisa memompa semangatnya. Ayo nulis! :D
wawancara antara kakak kelas dengan kakak kelas :)
buat yang lagi lesu nulis, mudah2an bisa memompa semangatnya. Ayo nulis! :D
Selasa, 01 November 2011
Kejahatan di Atas Angkutan Umum Kembali Terjadi!
Tragis! Selasa sore, 1-11-2011, beneran menjadi sore kelabu sepanjang 23 tahun gue hidup di bumi indonesia.
Roda emang nggak pernah berhenti berputar, yeesss... Sorenya gue baru aja memandangi dan mewawancarai artis muslimah KW1 pemeran utama wanita film Ketika Tasbih Bercinta (KTB), Markonah (bukan nama sebenarnya). Eh, bada maghrib menjelang isya, ketika terjebak dalam macet sepanjang Tanjung Barat-Ranco, pemandangan betapa cantik, anggun dan solehahnya Markonah yang masih terbayang-bayang di pelupuk mata, ternodai dengan pemandangan paling porno dan jorok yang pernah gue lihat. Fyuuuuh, seandainya kemarin naik mobil pribadi (emang punya?!) pasti gue bakal teriak dengan tenaga paling dalam yang gue punya, "Enyahlah kalian dari depan mata gueee e e e!". Yah, berhubung masih setia dengan angkutan umum, tenaga dalam yang hampir keluar itu akhirnya hanya bisa gue telan sendiri dan gue keluarkan lewat lubang paling bawah. Ah, legaaa!
Gubuk derita emang pas disematkan kepada para pengguna angkutan umum di Jakarta. Selain menjadi pengguna jalan kelas tiga, lumutan bin jamuran tiap hari berurusan dengan kemacetan, juga sangat berrisiko menjadi korban kejahatan. Dan seorang Enje pun tak keinggalan menjadi korbannya!
Bayangin... Gue udah memilih tempat duduk yang menurut gue paling aman, yakni di bangku depan samping supir. Tapi ternyata gue salah. Di samping supir pun kejahatan dapat terjadi, tepatnya dari mobil di depan atau samping angkot yang gue naiki.
Jadi ceritanya, waktu lagi bete-bete ah bergumul dengan macet, dari mobil bak di arah jam 11 dari posisi duduk gue saat itu, terlihat pemandangan bentuk tubuh dari pinggul ke bawah tanpa busana selembar pun! Untuk menjaga gengsi, gue pun berpura-pura nggak liat. Bahkan gue usahain untuk merem-merem ayam biar bisa tertidur.
Tapi berhubung mata ini nggak mau diajak kompromi, gue pun sesekali melek-melem ikan untuk melihat kondisi sekitar dan memastikan bahwa pemandangan itu sudah hilang diberangus Satpol PP. Dan ah, harapan tinggal harapan, bukannya menghilang, pemandangan itu makin menja-jadi, Sodara/i. Bahkan stu diantara pelaku menggerak-gerakkan kakinya! Apa coba maksud mereka? Biar gue makin ngeh gitu dengan polah kelewaan mereka? Ingin kuteriak... Diriku melarang...
Lima menit, pemandangan masih sama juga. Bahkan kali ini lebih parah. Mereka yang tadinya di posisi jam11, berpindah tepat ke arah jam12. Dan itu berarti, mereka berdiri tepat di depan pelupuk mata gue!
Srooot... Srooot.. Srooot!
Ah, apa itu?
Siaaaal! Beberapa kali mereka buang hajat di depan mata gue. Keji... Mereka anggap apa muka gue? Jamban, kah?
Antara mau muntah, nangis dan teriak karena merasa telah menjadi korban kejahatan di atas angkutan umum, berkumpul jadi satu dalam hati ini. Huwaaaa, tangis gue dalam hati akhirnya.
Dalam tangis, Gue terheran-heran, masa iya sih supir di sebelah gue nggak ngeliat pemandangan melecehkan di depan matanya? Apa dia sudah terbiasa melihat kejahatan di atas angkutan umum, hingga hatinya tak tergerak untuk menolong gue menyingkirkan pemandanan itu? Ya Allah, ampuni segala dosanya, lancarkan rejekinya, karuniakan kesehatan pada anak isterinya dan.... Karuniakan aku jodoh yang soleh, ya Allah. (hheee, dosa orang terzolimi kan diijabah, yeesss?)
Akhirnya, setelah Bosan berprasangka dan mengharap bantuan Satpol PP yang tak kunjung datang, gue pun nyerah! Sepertinya emang sudah ditakdrkan untuk menghadapi ini semua dengan lapang dada. Gue tarik nafas panjang sambil menegakkan kembali posisi duduk yang agak tertekuk saking lemasnya sejak awal kejahatan ini.
Satu menit...
Dua menit...
Lima menit...
Tunggu, ada yang aneh dengan pemandangan di depan gue. Kasian banget, sungguh merupakan kejahatan abad modern! Kepala itu, kepala mereka, kepala pelaku kejahatan di depan gue, terikat ke bawah! Terlihat jelas dari celah kaki mereka. Apalagi mereka berempat yang berbadan lumayan bohai berhimpit-himpitan dalam mobil bak berukuran kecil itu. OwEnJe... Poor them!
Semua perasaan terlecehkan dan terzolimi yang tadi membara lumayan lama, mendadak berubah menjadi rasa iba pada diri mereka. Kali ini gue yakin banget, apa yang mereka lakukan tadi adalah untuk menunjukkan kepada gue, betapa mnderita dan tersiksanya diri mereka. Nggak berprikemanusiaannya supir yang mengangkut mereka! Ckckck...
Ya Allah, apa yang bisa gue lakukan? Hingga mobil kami berpisah pun gue nggak melakukan apa-apa terhadap empat mereka. Hanya belas kasih yang bisa gue berikan. Mohon maaf, Kawan...
*Tulisan ini spesial gue tulis buat kalian, empat sapi di atas mobil bak depan angkot T19 yang gue naiki. Mungkin umur kalian tinggal menghitung hari. Tapi penderitaan kalian akan terus gue kenang dan menjadi pelajaran paling mahal dalam hidup gue. Gue berjanji... Kalau Allah memberi kesempatan gue untuk berbisnis hewan kurban di tahun-tahun mendatang, gue akan memperlakukan anak cucu kalian dengan sebaik-baiknya, insyaAllah.
Roda emang nggak pernah berhenti berputar, yeesss... Sorenya gue baru aja memandangi dan mewawancarai artis muslimah KW1 pemeran utama wanita film Ketika Tasbih Bercinta (KTB), Markonah (bukan nama sebenarnya). Eh, bada maghrib menjelang isya, ketika terjebak dalam macet sepanjang Tanjung Barat-Ranco, pemandangan betapa cantik, anggun dan solehahnya Markonah yang masih terbayang-bayang di pelupuk mata, ternodai dengan pemandangan paling porno dan jorok yang pernah gue lihat. Fyuuuuh, seandainya kemarin naik mobil pribadi (emang punya?!) pasti gue bakal teriak dengan tenaga paling dalam yang gue punya, "Enyahlah kalian dari depan mata gueee e e e!". Yah, berhubung masih setia dengan angkutan umum, tenaga dalam yang hampir keluar itu akhirnya hanya bisa gue telan sendiri dan gue keluarkan lewat lubang paling bawah. Ah, legaaa!
Gubuk derita emang pas disematkan kepada para pengguna angkutan umum di Jakarta. Selain menjadi pengguna jalan kelas tiga, lumutan bin jamuran tiap hari berurusan dengan kemacetan, juga sangat berrisiko menjadi korban kejahatan. Dan seorang Enje pun tak keinggalan menjadi korbannya!
Bayangin... Gue udah memilih tempat duduk yang menurut gue paling aman, yakni di bangku depan samping supir. Tapi ternyata gue salah. Di samping supir pun kejahatan dapat terjadi, tepatnya dari mobil di depan atau samping angkot yang gue naiki.
Jadi ceritanya, waktu lagi bete-bete ah bergumul dengan macet, dari mobil bak di arah jam 11 dari posisi duduk gue saat itu, terlihat pemandangan bentuk tubuh dari pinggul ke bawah tanpa busana selembar pun! Untuk menjaga gengsi, gue pun berpura-pura nggak liat. Bahkan gue usahain untuk merem-merem ayam biar bisa tertidur.
Tapi berhubung mata ini nggak mau diajak kompromi, gue pun sesekali melek-melem ikan untuk melihat kondisi sekitar dan memastikan bahwa pemandangan itu sudah hilang diberangus Satpol PP. Dan ah, harapan tinggal harapan, bukannya menghilang, pemandangan itu makin menja-jadi, Sodara/i. Bahkan stu diantara pelaku menggerak-gerakkan kakinya! Apa coba maksud mereka? Biar gue makin ngeh gitu dengan polah kelewaan mereka? Ingin kuteriak... Diriku melarang...
Lima menit, pemandangan masih sama juga. Bahkan kali ini lebih parah. Mereka yang tadinya di posisi jam11, berpindah tepat ke arah jam12. Dan itu berarti, mereka berdiri tepat di depan pelupuk mata gue!
Srooot... Srooot.. Srooot!
Ah, apa itu?
Siaaaal! Beberapa kali mereka buang hajat di depan mata gue. Keji... Mereka anggap apa muka gue? Jamban, kah?
Antara mau muntah, nangis dan teriak karena merasa telah menjadi korban kejahatan di atas angkutan umum, berkumpul jadi satu dalam hati ini. Huwaaaa, tangis gue dalam hati akhirnya.
Dalam tangis, Gue terheran-heran, masa iya sih supir di sebelah gue nggak ngeliat pemandangan melecehkan di depan matanya? Apa dia sudah terbiasa melihat kejahatan di atas angkutan umum, hingga hatinya tak tergerak untuk menolong gue menyingkirkan pemandanan itu? Ya Allah, ampuni segala dosanya, lancarkan rejekinya, karuniakan kesehatan pada anak isterinya dan.... Karuniakan aku jodoh yang soleh, ya Allah. (hheee, dosa orang terzolimi kan diijabah, yeesss?)
Akhirnya, setelah Bosan berprasangka dan mengharap bantuan Satpol PP yang tak kunjung datang, gue pun nyerah! Sepertinya emang sudah ditakdrkan untuk menghadapi ini semua dengan lapang dada. Gue tarik nafas panjang sambil menegakkan kembali posisi duduk yang agak tertekuk saking lemasnya sejak awal kejahatan ini.
Satu menit...
Dua menit...
Lima menit...
Tunggu, ada yang aneh dengan pemandangan di depan gue. Kasian banget, sungguh merupakan kejahatan abad modern! Kepala itu, kepala mereka, kepala pelaku kejahatan di depan gue, terikat ke bawah! Terlihat jelas dari celah kaki mereka. Apalagi mereka berempat yang berbadan lumayan bohai berhimpit-himpitan dalam mobil bak berukuran kecil itu. OwEnJe... Poor them!
Semua perasaan terlecehkan dan terzolimi yang tadi membara lumayan lama, mendadak berubah menjadi rasa iba pada diri mereka. Kali ini gue yakin banget, apa yang mereka lakukan tadi adalah untuk menunjukkan kepada gue, betapa mnderita dan tersiksanya diri mereka. Nggak berprikemanusiaannya supir yang mengangkut mereka! Ckckck...
Ya Allah, apa yang bisa gue lakukan? Hingga mobil kami berpisah pun gue nggak melakukan apa-apa terhadap empat mereka. Hanya belas kasih yang bisa gue berikan. Mohon maaf, Kawan...
*Tulisan ini spesial gue tulis buat kalian, empat sapi di atas mobil bak depan angkot T19 yang gue naiki. Mungkin umur kalian tinggal menghitung hari. Tapi penderitaan kalian akan terus gue kenang dan menjadi pelajaran paling mahal dalam hidup gue. Gue berjanji... Kalau Allah memberi kesempatan gue untuk berbisnis hewan kurban di tahun-tahun mendatang, gue akan memperlakukan anak cucu kalian dengan sebaik-baiknya, insyaAllah.
Langganan:
Postingan (Atom)