tes, 1, 2, 3...ting^^
Postingan hanya tes, ulangi hanya tes.
Selasa, 25 September 2012
Senin, 10 September 2012
Jumat, 07 September 2012
Selasa, 04 September 2012
Senin, 03 September 2012
Minggu, 02 September 2012
Kamis, 30 Agustus 2012
Senin, 27 Agustus 2012
Minggu, 12 Agustus 2012
Sabtu, 11 Agustus 2012
Rabu, 08 Agustus 2012
Selasa, 07 Agustus 2012
Senin, 06 Agustus 2012
Menjadi yang Pertama
Bukaaannn... ini bukan mau ngoceh tentang poligami. Hanyaaa... ini seperti kebanyakan perempuan di seluruh dunia: maunya dan senangnya menjadi yang pertama. #kode (:
Ini tentang profesi gue. Sebagai pencari berita yang mendadak dangdut menjadi pencari cerita, semakin kokoh hati gue bahwa menjadi numero uno itu... membahagiakan.
Apalagi konteksnya menjadi yang pertama dalam menyeleksi cerita yang masuk ke gmail gue. Kira-kira ada kali 300 cerpen yang memanggil-manggil minta dibaca. Dan kadang gue penuhi seruannya dengan ngegerutu, bermalasan, sampai ngantuk-ngantuk saking bervariasinya itu cerita. Yap, begitu mungkin gambaran salah satu aktivitas saban hari gue di tempat kerja sekarang. Terlihat sepele, yaaa? (:
Detik-detik menjelang "ujung"nya, membuka-buka kembali cerita yang sudah lolos dari jerat kemalasan gue membacanya, semakin gue terharu. Apalagi kalau teryata responnya positif. Banyak komenan yang menyatakan senang dengan cerita pilihan gue. Hmmm... berarti kan selera gue sesuai dengan selera pembaca. Dan yang paling penting, gue sudah menyajikan bacaan terbaik untuk remaja muslim bahkan yang non muslim. (:
Insya Allah kalau sudah "habis" masanya, kesenangan ini yang bakal gue inget terus setelah kesenangan ke sana ke mari bertemu orang baru di tempat dan kegiatan baru bernama meliput.
Oke, salam bahagiaaa! :D
Ini tentang profesi gue. Sebagai pencari berita yang mendadak dangdut menjadi pencari cerita, semakin kokoh hati gue bahwa menjadi numero uno itu... membahagiakan.
Apalagi konteksnya menjadi yang pertama dalam menyeleksi cerita yang masuk ke gmail gue. Kira-kira ada kali 300 cerpen yang memanggil-manggil minta dibaca. Dan kadang gue penuhi seruannya dengan ngegerutu, bermalasan, sampai ngantuk-ngantuk saking bervariasinya itu cerita. Yap, begitu mungkin gambaran salah satu aktivitas saban hari gue di tempat kerja sekarang. Terlihat sepele, yaaa? (:
Detik-detik menjelang "ujung"nya, membuka-buka kembali cerita yang sudah lolos dari jerat kemalasan gue membacanya, semakin gue terharu. Apalagi kalau teryata responnya positif. Banyak komenan yang menyatakan senang dengan cerita pilihan gue. Hmmm... berarti kan selera gue sesuai dengan selera pembaca. Dan yang paling penting, gue sudah menyajikan bacaan terbaik untuk remaja muslim bahkan yang non muslim. (:
Insya Allah kalau sudah "habis" masanya, kesenangan ini yang bakal gue inget terus setelah kesenangan ke sana ke mari bertemu orang baru di tempat dan kegiatan baru bernama meliput.
Oke, salam bahagiaaa! :D
Minggu, 05 Agustus 2012
Selasa, 31 Juli 2012
Tentang Menjadi Ibu
Ibarat sebuah cerpen, 12 Ramadhan tahun ini kayaknya puncak klimaksnya deh. Di mana sang tokoh utama yang tak lain dan tak bukan gue sendiri sedang bersua dengan akumulasi konflik maha dahsyat dalam salah satu keping hidupnya tentang menjadi seorang ibu. Ciyeeeeh bahasanya XD.
Mnurut kebanyakan perempuan yang sudah menikah: perempuan baru akan menjadi perempuan yang sesungguhnya kalau sudah merasakan nikmatnya menjadi seorang ibu. Hmmm... berarti sekarang gue perempuan jadi-jadian, dooonk? -,-
Ah, bukan itu yang mau gue muntahkan kali ini (semoga puasa hamba nggak batal, ya Allah). Emang gue belum menjadi ibu dan nggak tau pastinya kapan bakal jadi ibu (putus asa?). Dan gue nggak sepakat dengan statement di atas. Bahkan sempat gue kepikiran nggak mau jadi ibu. Eh tapi cuma pikiran sekejap duank deng. :D
Bukan apa-apa... Belakangan gue suka merhatiin tingkah beberapa ibu muda terhadap anak-anaknya. Kalau boleh gue simpulkan, mereka seperti nggak menikmati perannya sebagai perempuan yang sesungguhnya: menjadi ibu.
Kasus pertama dari seorang kenalan yang cantiknya naujubilleee! Gue haqqul yaqin lo lo pada kaum Adam bakal ngelirik kalau berpapasan dengan doi. Sampai gue ketemu doi pas bawa anaknya, sejak saat itu lah kecantikannya seperti terkikis di mata gue. Galak banget sama anaknya!
Kasus kedua kira-kira dua minggu menjelang Ramadhan di atas kereta. Seorang ibu di samping gue, tangan anaknya kejepit pintu antar gerbong KRL AC. Waktu itu dia nggak ngeh kenapa anaknya nangis nangis kekejeran. Sampai ada seorang bapak yang ngasih tau perihal tangan anaknya yang kejepit. Duuaaarrrr... bukannya dielus atau ditiup tangannya yang sakit, dibujuk biar nggak nangis lagi, eh malah cacian dan pukulan di paha si anak yang diberi. Heh -,-
Nggak berbeda sama ibu ke-dua. Kasus ketiga juga begitu. Udahlah anaknya kepeleset di pintu warung pinggir jalan, eh malah dicaci dan dipukul kaki anaknya. Untung masih sodaraan, masih bisa gue omelin pelakunya. :p
Nah, kasus keempat ini lah klimaksnya. Saat lagi asik asik berjibaku dengan kain pel n lantai tadi pagi, dari kontrakan depan rumah terdengar suara jeritan seorang anak SD. Mengaduh-aduh kesakitan sambil menggedor-gedor pintu dan rengekan ampun ditujukan ke sang ibu.
"Ampun, Mah... Sakit, sakit... Ampun..."
Sebagai orang Indonesia yang katanya orangnya ramah-ramah (apa terlalu mau ikut campur?), beberapa tetangga termasuk gue sampai keluar rumah menelisik ada apa gerangan? *bahasanyaaa :p* Cuma suara sang anak tanpa amarah sang ibu yang kami dengar sampai seorang bapak teriak dari luar berusaha melerai, baru deh terdengar suara amarah seorang perempuan.
"Emang lo gua apain ampun ampun begitu, hah? Malu maluin gue aja lo! Keluar!" Jedug! (suara sesuatu terbentur tembok)
Et dahhh... Ngeri ngeri ngeriii ngedengernya o_O
Awalnya gue seneng banget pindah ke rumah yang sekarang. Selain karena lokasinya yang masuk gang, mayoritas tetangganya berasal dari suku X yang terkenal dengan kelembutannya. Ternyata yaaa... orang kalau sudah marah nggak kenal suku. Tetep aja serem. Maafkan gue saudara Betawi sesuku yang telah menganggap kalian dan keluarga gue sebagai suku yang kasar dan cablak. Sekali lagi maaf...
Dari empat kasus di atas, gue jadi bingung sendiri. Ini kenapa jadi begini ya? Orang tua yang wajib dihargai dan diperlakujan lemah lembut sama anaknya, kok begitu??? Emang sih, semua pengorbanan yang ortu terutama ibu berikan nggak akan pernah bisa terbalas dengan apapun. Tapi bukannya satu kekasaran yang diterima anak bakal teringat terus di alam bawah sadar anak sampai dia dewasa? Gimana ini...?
Apalagi pernah gue tanya ke satu anak teman dan beberapa keponakan. Sayangan mamah atau papah? Lah jawabannya satu suara: papaaaah! Mamah galak, marah-marah terus. Ah jadi kepikiran, jangan-jangan entar anak gue ngomong begini juga? Tidaaaaaakkkk -,-
Padahal seorang ibu 10x lebih besar pengorbanannya. Dari mulai di dalam rahim sampai anaknya menikah dan keluar dari rumah ninggalin dia. Aw aw awww... jadi complicated begindang ya kalau dipikir-pikir.
Apa karena peran bapak yang lebih sering di luar rumah dan karena jarang ketemu anak-anaknya ya jadi mereka lebih akur gitu? Atau karena peran ibu yang setiap saat selalu membersamai anak, hingga bisa seenaknya? Atau karena anak zaman sekarang yang bandel-bandel? Kayaknya sih karena semua. Heheee.
Tapi gue pernah sharing sharing sama seorang ibu yang karena alasan ekonomi doi nggak jadi FTM (full time mother). Bahkan doi membenarkan perannya itu. Jadi menurutnya, seorang perempuan nggak seharusnya tujuh hari dalam seminggu 1x24 jam berada di rumah bersama anak-anaknya. Sesekali dalam seminggu, perlulah tugas urus anak diambil alih sama kaum bapak. Soalnya biar bagaimanapun perempuan juga manusia yang butuh mengaktualisasikan diri. Nggak mesti kerja, yang penting ada waktu dia bersama orang lain melakukan hal positif kayak bakti sosial, ikut kajian, ngajar, dllsb. Yang jelas kudu keluar rumah asal nggak kelewatan. Soalnya lagi, kata seorang ibu yang bukan FTM tadi, kalau ibu keluar rumah, rasa kangen dan sayang sama anak akan semakin menjadi seberapa bandel pun anaknya. Beda sama FTM (apalagi yang karena tetpaksa), tiap hari ngeliat tingkah nakal anak kan stress juga yaaa.
Heheee, bukan maksud hati mengajak kepada ajaran kaum feminis. Atau bukan juga sok bener sendiri dan menjamin gue nggak akan melakukan seperti yang dilakukan ibu-ibu di di atas. Bukan... Justru ini ngingetin diri sendiri, kalau tiba masanya gue jadi ibu... mudah mudahan tulisan ini jadi pengingat. ^___^
Okesip, lanjut lagi Ramadhannya! Maaf sudah mengalihkan ibadah kalian... (:
Mnurut kebanyakan perempuan yang sudah menikah: perempuan baru akan menjadi perempuan yang sesungguhnya kalau sudah merasakan nikmatnya menjadi seorang ibu. Hmmm... berarti sekarang gue perempuan jadi-jadian, dooonk? -,-
Ah, bukan itu yang mau gue muntahkan kali ini (semoga puasa hamba nggak batal, ya Allah). Emang gue belum menjadi ibu dan nggak tau pastinya kapan bakal jadi ibu (putus asa?). Dan gue nggak sepakat dengan statement di atas. Bahkan sempat gue kepikiran nggak mau jadi ibu. Eh tapi cuma pikiran sekejap duank deng. :D
Bukan apa-apa... Belakangan gue suka merhatiin tingkah beberapa ibu muda terhadap anak-anaknya. Kalau boleh gue simpulkan, mereka seperti nggak menikmati perannya sebagai perempuan yang sesungguhnya: menjadi ibu.
Kasus pertama dari seorang kenalan yang cantiknya naujubilleee! Gue haqqul yaqin lo lo pada kaum Adam bakal ngelirik kalau berpapasan dengan doi. Sampai gue ketemu doi pas bawa anaknya, sejak saat itu lah kecantikannya seperti terkikis di mata gue. Galak banget sama anaknya!
Kasus kedua kira-kira dua minggu menjelang Ramadhan di atas kereta. Seorang ibu di samping gue, tangan anaknya kejepit pintu antar gerbong KRL AC. Waktu itu dia nggak ngeh kenapa anaknya nangis nangis kekejeran. Sampai ada seorang bapak yang ngasih tau perihal tangan anaknya yang kejepit. Duuaaarrrr... bukannya dielus atau ditiup tangannya yang sakit, dibujuk biar nggak nangis lagi, eh malah cacian dan pukulan di paha si anak yang diberi. Heh -,-
Nggak berbeda sama ibu ke-dua. Kasus ketiga juga begitu. Udahlah anaknya kepeleset di pintu warung pinggir jalan, eh malah dicaci dan dipukul kaki anaknya. Untung masih sodaraan, masih bisa gue omelin pelakunya. :p
Nah, kasus keempat ini lah klimaksnya. Saat lagi asik asik berjibaku dengan kain pel n lantai tadi pagi, dari kontrakan depan rumah terdengar suara jeritan seorang anak SD. Mengaduh-aduh kesakitan sambil menggedor-gedor pintu dan rengekan ampun ditujukan ke sang ibu.
"Ampun, Mah... Sakit, sakit... Ampun..."
Sebagai orang Indonesia yang katanya orangnya ramah-ramah (apa terlalu mau ikut campur?), beberapa tetangga termasuk gue sampai keluar rumah menelisik ada apa gerangan? *bahasanyaaa :p* Cuma suara sang anak tanpa amarah sang ibu yang kami dengar sampai seorang bapak teriak dari luar berusaha melerai, baru deh terdengar suara amarah seorang perempuan.
"Emang lo gua apain ampun ampun begitu, hah? Malu maluin gue aja lo! Keluar!" Jedug! (suara sesuatu terbentur tembok)
Et dahhh... Ngeri ngeri ngeriii ngedengernya o_O
Awalnya gue seneng banget pindah ke rumah yang sekarang. Selain karena lokasinya yang masuk gang, mayoritas tetangganya berasal dari suku X yang terkenal dengan kelembutannya. Ternyata yaaa... orang kalau sudah marah nggak kenal suku. Tetep aja serem. Maafkan gue saudara Betawi sesuku yang telah menganggap kalian dan keluarga gue sebagai suku yang kasar dan cablak. Sekali lagi maaf...
Dari empat kasus di atas, gue jadi bingung sendiri. Ini kenapa jadi begini ya? Orang tua yang wajib dihargai dan diperlakujan lemah lembut sama anaknya, kok begitu??? Emang sih, semua pengorbanan yang ortu terutama ibu berikan nggak akan pernah bisa terbalas dengan apapun. Tapi bukannya satu kekasaran yang diterima anak bakal teringat terus di alam bawah sadar anak sampai dia dewasa? Gimana ini...?
Apalagi pernah gue tanya ke satu anak teman dan beberapa keponakan. Sayangan mamah atau papah? Lah jawabannya satu suara: papaaaah! Mamah galak, marah-marah terus. Ah jadi kepikiran, jangan-jangan entar anak gue ngomong begini juga? Tidaaaaaakkkk -,-
Padahal seorang ibu 10x lebih besar pengorbanannya. Dari mulai di dalam rahim sampai anaknya menikah dan keluar dari rumah ninggalin dia. Aw aw awww... jadi complicated begindang ya kalau dipikir-pikir.
Apa karena peran bapak yang lebih sering di luar rumah dan karena jarang ketemu anak-anaknya ya jadi mereka lebih akur gitu? Atau karena peran ibu yang setiap saat selalu membersamai anak, hingga bisa seenaknya? Atau karena anak zaman sekarang yang bandel-bandel? Kayaknya sih karena semua. Heheee.
Tapi gue pernah sharing sharing sama seorang ibu yang karena alasan ekonomi doi nggak jadi FTM (full time mother). Bahkan doi membenarkan perannya itu. Jadi menurutnya, seorang perempuan nggak seharusnya tujuh hari dalam seminggu 1x24 jam berada di rumah bersama anak-anaknya. Sesekali dalam seminggu, perlulah tugas urus anak diambil alih sama kaum bapak. Soalnya biar bagaimanapun perempuan juga manusia yang butuh mengaktualisasikan diri. Nggak mesti kerja, yang penting ada waktu dia bersama orang lain melakukan hal positif kayak bakti sosial, ikut kajian, ngajar, dllsb. Yang jelas kudu keluar rumah asal nggak kelewatan. Soalnya lagi, kata seorang ibu yang bukan FTM tadi, kalau ibu keluar rumah, rasa kangen dan sayang sama anak akan semakin menjadi seberapa bandel pun anaknya. Beda sama FTM (apalagi yang karena tetpaksa), tiap hari ngeliat tingkah nakal anak kan stress juga yaaa.
Heheee, bukan maksud hati mengajak kepada ajaran kaum feminis. Atau bukan juga sok bener sendiri dan menjamin gue nggak akan melakukan seperti yang dilakukan ibu-ibu di di atas. Bukan... Justru ini ngingetin diri sendiri, kalau tiba masanya gue jadi ibu... mudah mudahan tulisan ini jadi pengingat. ^___^
Okesip, lanjut lagi Ramadhannya! Maaf sudah mengalihkan ibadah kalian... (:
Rabu, 25 Juli 2012
Minggu, 22 Juli 2012
Jumat, 20 Juli 2012
Langganan:
Postingan (Atom)